Berita Lokal PekanbaruSerba-Serbi

Woww, Tidak Terbayangkan Masyarakat Bali Tanpa Canang

DENPASAR-Canang tak bisa dipisahkan dengan orang Bali. Seolah-olah, kelengkapan ibadah (spiritual) ini telah menjadi kebutuhan pokok. Membludaknya kebutuhan akan canang dimanfaatkan masyarakat untuk mengais keuntungan.

Bahkan, ada pula yang membuatnya sendiri untuk dijual dalam jumlah besar.  Sehari seorang pedagang bisa menjual 1.000-1.400 canang. Namun, rezeki berjualan canang itu tak lagi dinikmati orang kecil. Mereka bakal terancam pemodal besar?

 Canang. Demikianlah salah satu hal yang menandai hidup sehari-hari manusia Bali. Lihat saja, canang menembus segala denyut kehidupan manusia Bali. Di mana ada manusia Bali, di sana canang hadir, memberi makna.

Tak cuma di pura atau sanggah atau plangkiran di rumah. Di kantor, di pasar, di sawah, di hotel, di bemo, di mobil, dokar, di ujung jembatan hingga di batu-batu besar dan pohon keramat di persimpangan jalan sesajen sederhana ini ada.

Bahkan, di areal tajen (sabung ayam), di meja domino, hingga di warung-warung ringkih pun canang hadir. Canang yang menandai harapan sekaligus rasa syukur manusia Bali ke hadapan Hyang Widhi.

Jelek rasane tusing mabanten, ngaturang canang (Tidak enak rasanya bila tidak mabanten, menghaturkan canang),” aku Bu Dewi (30), yang sehari-hari bekerja pada perusahaan kerupuk kecil-kecilan milik temannya di Denpasar.

Sebelum berangkat kerja, Dewi sudah menghaturkan canang di tiga palinggih di sanggah-nya. Di pabrik tempatnya bekerja, dia pula yang menghaturkan 25 canang tiap hari, mulai dari Padmasana, plangkiran, hingga di pintu masuk pabrik.

“Kalau kelupaan menghaturkan canang di tempat kerja, perasaan suka tidak tenang,” ungkapnya.

Lain lagi dengan Wayan Lemek. Orang yang sehari-hari bertanggung jawab terhadap Pura Tunjang Langit di lingkungan Banjar Suci, Denpasar, ini mengaku sering didatangi makhluk gaib bila kelupaan menghaturkan canang di pura itu.

“Lebih-lebih lagi kalau rerahinan (hari keagamaan), seperti Kajeng Kliwon, beh sebelum matahari terbenam saya sudah didatangi ancangan (pasukan gaib) Pura. Diingatkan agar jangan lupa ngaturang canang,”paparnya. Sehari paling tidak Lemek menghabiskan 30 canang. rai/jss

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close