Berita Lokal PekanbaruEkonomiProfil

Samharis, Sarjana Matematika Ini Sukses Kembangkan Kebun Sawit

Oleh : Bayu Derriansyah

Metropekanbaru.com, PEKANBARU – Pak Samharis adalah salah satu petani sukses di Kunto Darussalam, Kabupaten Rokan Hulu.  Kepercayaan dan keyakinannya menebang seluruh kebun karet dan memutuskan bergabung dengan IGA untuk memulai perkebunan kelapa sawit membawa hidupnya menjadi sejahtera.

Pak Samharis datang ke Riau, tepatnya di Desa Kota Intan, Kecamatan Kunto Darussalam, Kabupaten Rokan Hulu, pada tahun 2001. Berbekal ilmunya sebagai sarjana pendidikan matematika, Pak Samharis memulai hidupnya dengan mengabdi menjadi guru honorer di salah satu Sekolah Dasar (SD) di sana.

Selain itu, dia juga memiliki  kebun karet. Namun, karena dilihat prospek kebun karet yang menurutnya kurang jelas, tanpa pikir panjang Pak Samharis langsung mengubah haluan hidupnya ketika program IGA (Incoming Generating of Activity) sawit digulirkan oleh PT Ekadura Indonesia.

“Pada waktu itu, lahan yang saat ini menjadi lahan IGA, itu saya manfaatkan untuk kebun getah. Dan waktu kita dengar ada IGA ini, tidak ada ampun, langsung kita tumbang saja itu kebun getah. Waktu itu sebenarnya harga getah sedang tinggi. Karena yang kita harapkan itu prospeknya. Kita juga mempertimbangkan dari masalah pembinaannya dan juga harganya,” kata Pak Samharis.

Menurutnya, kelapa sawit memiliki prospek yang lebih jelas ketimbang karet.

“Kita yakin berpindah ke sawit, karena kita lihat dari sisi pemerintah daerah pun kurang pembinaannya untuk getah. Artinya petani kebun getah seperti dibiarkan, selain itu system penjualannya, harganya di pasar juga tidak jelas, tidak terstruktur lah,” tambahnya.

Pada awal digulirkan, Pak Samharis bersama dengan 48 petani lainnya yang terdaftar dalam IGA tahap pertama baru dapat memulai penanaman sawit 1 tahun kemudian.

Baca Juga  Puncak Arus Balik di Riau Terjadi Hari Sabtu dan Minggu

“Pengusulan 2007, baru terealisasi dan mulai penanaman 2008. Dengan jumlah anggota 49 orang dengan luas area 88,9 hektar, masing-masing sekitar 2 hektar per orang, ini untuk yang tahap 1. Yang tahap 2 ada sekitar 27 orang, dengan luas area sekitar 62 hektar,” ujarnya.

Sistem Pengelolaan IGA Sawit

Sistem pengelolaan untuk IGA sawit berbeda dengan KKPA (Kredit Koperasi Primer Anggota). Jika dalam KKPA seluruh pengelolaan lahan, pengerjaan serta panen dilakukan oleh perusahaan, namun untuk IGA, seluruh pekerjaan dilakukan oleh petani, dan perusahaan hanya memfasilitasi bahan serta melakukan pembinaan kepada petani yang mengelolanya.

“IGA dikelola mandiri, tidak seperti KKPA.  Tapi tetap berdasarkan petunjuk dari pihak perusahaan. Setidakanya 1 kali 3 bulan itu ada penyuluhan dari perusahaan. Penuyuluhannya bukan hanya di dalam ruangan, tapi juga kadang langsung turun ke lapangan, survey ke kebun. Jadi untuk pengelolaan kebun itinya ikuti anjuran perusahaan,” katanya.

Pak Samharis juga membeberkan penghasilan rata-rata petani IGA dalam sekali panen. Dalam sekali panen rotasi 15 hari, untuk 2 hektar itu kisaran 1,5 hingga 2 ton. Bahkan saat musim sedang bagus bisa sampai 2,5 ton.
“Produksi cukup tinggi ini, pertama kita dari bibitnya, karena bibit kita ini kan dari perusahaan. Bahkan orang mengakui, dan banyak yang bukan anggota mau membeli bibit itu, tapi kan tidak bisa, bibit itu dari perusahaan dan hanya untuk anggota kelompok,”.

Dengan menikuti anjuran dan arahan dari PT Ekadura Indonesia ini lah, Pak Samharis berhasil mengembangkan kebun sawitnya. Saat ini, dia juga telah memilikir sekitar 10 hektar kebun sawit di luar kebun IGA.

Baca Juga  Rey Utami Dicecar Pertanyaan Penggelapan 32 Mobil Pablo Benua

Mengajar dan Habiskan Waktu dengan Keluarga

Dengan lahan yang cukup luas itu, Pak Tris juga tetap mengabdi untuk membagikan ilmunya di sekolah. Dia kini mengajar di salah satu Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang berada di Kecamatan Kunto Darussalam.

Dengan kondisi ekonimi yang sangat baik setelah bergabung menjadi petasi IGA, Pak Samharis juga kini memiliki waktu yang lebih banyak dengan keluarga. Selain itu dia juga punya usaha wifi yang dia buka di rumahnya sendiri.

“Sekarang mengajar d SMP. Pulang dari sekolah ya di rumah dengan keluarga, sambil ada usaha wifi sedikit dari rumah sini,” katanya.

Pak Samharis merasa sangat bersukur bisa bergabung menjadi petani IGA binaan PT Ekadura Indonesia. Selain bisa memiliki 10 hektar kebun sawit, dia juga kini memiliki sebuah mobil pribadi, satu unit truk, sepeda motor. Dia juga berencana akan membeli sebuah rumah di Kota Pekanbaru. “ Truk mau kita lewatkan, untuk membeli kebun lagi,” katanya.

Selain itu, saat ini, anak semata wayang Pak Samharis juga bisa menikmati hasil dari perkebunan IGA yang dilakukan ayahnya. Anak Pak Samharis kini tengah melanjutkan pendidikan program studi Psikologi di Uinversitas Islam Riau. bayu/jss

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close