Berita Lokal PekanbaruProfil

Transmigran Sukses : Jadi Orang Kaya Itu Seperti Mimpi

Pak Sutrisno, adalah satu di antara segelintir transmigran sukses di Pelalawan.  Sekarang luas kebunnya sudah ratusan hektar, rumahnya puluhan, bertebaran di Pelalawan (Riau), Sragen (Jawa Tengah), serta apartemen di Jakarta dan Bekasi (Jawa Barat), ditambah puluhan mobil mewah.

Anak-anaknya juga menikmati pendidikan yang tidak murah. Mereka masuk perguruan tinggi elit di Jakarta, dan mulai merintis usaha lain di ibukota.

“Kalau melihat hidup sekarang ini rasanya seperti mimpi. Mimpi indah,” kata Pak Sutrisno saat disambangi Metropekanbaru.com di rumahnya. Pak Tris, begitu sapaannya, adalah petani binaan PT Sari Lembah Subur (PT SLS), anak perusahaan dari Astra Agro Lestari Tbk.

Ketika ditanya bagaimana perjalanan hidupnya bisa menjadi milioner seperti sekarang, Pak Tris tidak langsung menjawab. Dia menurunkan tubuhnya dari kursi empuk yang diduduki, menatap langit-langit ruang tamu sambil menghela nafas panjang. Ada air bening menggenang di kelopak matanya.

Sedang sang istri, Sri Iswati, kendati tertawa terbahak-bahak, tapi ada lintasan air yang sama di kornea matanya. Pertanyaan itu seperti menggugah masa lalu keduanya, masa lalu yang kelabu.

Pak Tris datang di Indragiri Hulu (Inhu), Riau tahun 1988. Dia datang sebagai transmigran. Dia dapat jatah dari pemerintah kebun seluas dua hektar, dan kebun itu yang kelak dibudidayakan. “Ya, dikasih Pak Harto kebun dua hektar,” katanya tertawa.

Sebelum berangkat pergi transmigrasi, Pak Tris menyunting dara dari Ngawi, Jawa Timur, yaitu Bu Sri Iswati. Pak Tris yang lahir di Sragen, Jawa Tengah itu memang secara geografis dekat dengan Ngawi, daerah Jawa Timur yang  berbatasan langsung dengan Jawa Tengah.

Namun alasan Pak Tris mendaftar sebagai transmigran beda dengan yang lain. Jika mereka jadi transmigran karena terpaksa, karena dihimpit kemiskinan, Pak Tris mendaftar sebagai transmigran justru melihat adanya peluang di area baru yang masih berupa hutan itu. Peluang untuk cepat berkembang.

“Soalnya di Jawa kan sudah rebutan untuk mendapatkan peluang itu. Di daerah baru, saya bisa mengembangkan diri untuk cepat maju. Selain bisa membantu saudara-saudara kita dalam banyak hal,” katanya pada Metropekanbaru.com.

Optimisme Pak Tris itu masuk akal. Sebab saat hendak berangkat sebagai transmigran, Pak Tris sudah punya bekal. Bekal pertama adalah ijazah. Dan bekal kedua adalah rencana yang akan dilakukan di area baru nanti.

“Saya tamatan PGSLP. Sejak mau berangkat saya sudah berpikir, teman-teman transmigran itu kan bawa anak atau akan punya anak. Mereka bakal bingung mendidik anak-anaknya di tempat baru nanti. Kasihan anak-anak itu kalau dibiarkan tidak mendapatkan pendidikan,” kata Pak Tris.

“Kebetulan, ketika soal kemanusiaan ini saya bicarakan dengan istri, dia setuju. Dia mendukung niat saya ini, jadi klop,” tambahnya.

Pak Tris dan istri kemudian diberangkatkan menuju Inhu melalui darat, naik bus bersama rombongan para transmigran yang lain. Ketika sampai, Pak Tris dan istrinya mulai kerja keras, membersihkan kebun yang masih berupa hutan itu. Tak ada keluhan, karena sudah punya kesadaran, bahwa di daerah baru itu memang harus kerja keras.

Di tanah yang luas itu ditanami berbagai jenis tanaman. Untuk tanaman yang ditanam tidak pilih-pilih. Apa saja ditanam untuk mempertahankan hidup. “Pertama itu yang penting ada yang bisa dimakan. Setelah itu kita tanam karet, dan seterusnya kita tanami kelapa sawit sampai sekarang,” kata Pak Tris.

Saat bertanam sawit itu dia mendapat bimbingan dari PT Sari Lembah Subur (PT SLS). Dari pemilihan benih, pupuk, perawatan, hingga pasca panen. “Saya menjadi mitra PT SLS itu sejak awal sampai sekarang. Saya terima kasih dibantu dan diarahkan, dan saya menjadi seperti sekarang ini diantaranya karena dibantu PT SLS,” katanya.

Berdagang dan mengajar

Ketika kebun sudah mulai menghasilkan, kesibukan sudah mulai bisa diatur. Pak Tris dan Bu Sri tidak harus seharian berkutat untuk merawat tanaman. Saat itulah suami-istri ini mulai membuat kegiatan di luar merawat kebun.

Pak Tris mulai merintis sekolah untuk anak-anak para transmigran. Sedang Bu Sri mulai membuka usaha kecil-kecilan. Usaha kelontong itu dirintis, untuk memenuhi kebutuhan rumahtangga sendiri, juga kebutuhan para transmigran.

Bertahun-tahun itu dilakukan, tidak terasa apa yang ditanam pasangan ini semuanya berkembang pesat. Sekolah rintisan Pak Tris semakin besar dengan siswa yang semakin banyak. Dan itu berjalan hingga sekarang.

Sedang bisnis dan kebun keluarga ini juga mengalami pertumbuhan yang luar biasa. Toko kecil itu tidak hanya menjual beras, gula, kopi dan kebutuhan sehari-hari lainnya, tetapi sampai orang mau beli mobil jenis apa saja bisa dilayani.

“Orang mau beli mobil mewah apapun, saya telepon, besoknya langsung akan dikirim ke sini. Mereka (dealer) sudah percaya kita, jadi tidak susah. Malah kita banyak dapat hadiah dari mereka,” kata Pak Tris sambil tertawa.

Itu masuk akal. Sebab keluarga ini sudah membeli hampir ratusan mobil. Untuk truk saja, sekarang masih sisa 14 truk, dari semula yang 43 buah truk. Sedag karyawan yang dipekerjakan mencapai 60 orang.

“Sedang untuk mobil pribadi ada enam. Selain Mercedez juga ada BMW. Itu untuk anak-anak, “ ujar Pak Tris.

Juga kebun, yang semula hanya satu kapling (2 hektar), sekarang sudah berkembang menjadi ratusan kapling. “Itu kita beli sedikit demi sedikit. Kalau ada orang jual kita beli. Juga tanah dan rumah, ada 17 rumah yang ditempati karyawan kita,” kata Pak Tris.

Adakah tanah di Jawa dan Jakarta? “Ya, ada. Di Jawa kita punya, juga Jakarta dan Bekasi. Ada apartemen di Jakarta, dan rumah. Itu juga karena anak-anak kuliah di Trisakti dan Tarumanegara, biar mereka tidak kesulitan di ibukota,” ungkapnya.

Sebagai orang yang sudah tidak kesulitan dengan finansial, maka Pak Tris dan Bu Sri Indarti juga tidak membiarkan hidupnya terkungkung di daerah. Saban tahun keduanya merancang liburan ke berbagai negara.

Ya melancong ke negara-negara lainlah mas, biar kita tidak hanya melihat kelapa sawit saja,” jawabnya sambil terbahak. Itulah kalau perjuangan hidup sudah berhasil, segalanya menjadi begitu mudah. jss

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close