Berita Lokal PekanbaruKhazanah

Suluk Gatolotjo (37) : Memberi Wejangan Para Istri

Oleh : Djoko Su’ud Sukahar

Gatolotjo hatinya berbunga. Ia tertawa-tawa mendengarkan pengakuan Dewi Lupitwati. Yang mengejutkan, pasca kemenangan itu, tiba-tiba kecongkakan Gatolotjo menjadi redup. Seperti lampu templek yang kehabisan minyak, bak lilin yang telah mencair.

Metroprkanbaru.com, PEKANBARU-Begitu juga kekasarannya. Gerak phisiknya tak lagi laiknya Bratasena yang marah atau Wisanggeni yang mengejek para dewa. Sikap itu terpoles akal budi, dan terekspresikan menjadi kewibawaan. Arogansi pernyataan beralih menjadi kearifan. Penuh budi luhur. Dengan tutur lembut menyejukkan.

“Pernyataanmu aku terima. Mulai sekarang, kamu sekalian, semuanya saja, telah menjadi istriku. Untuk itu, kamu semua harus patuh pada suami. Segala perintahku, berat atau ringan jangan ditolak. Jika penolakan itu kamu lakukan, maka kamu akan sial. Bakal celaka.

Memang sudah lumrah. Laki-laki itu wajib kawin. Walaupun rupanya jelek, tetapi ia pantas untuk dihormati. Disembah oleh istri. Karena istri itu adalah Rakyat (bahasa Jawa, yang artinya istri). Dan laki-laki itu adalah pepunden. Untuk itu, bagaimana pun jeleknya sang suami, istri harus menghormati. Tindak-tanduk harus pantas. Teliti dan berhati-hati. Tidak boleh sembrono. Kesembronoan itu tidak baik. Yang tak kalah penting, istri harus sabar. Jangan brangasan. Dan hormatlah pada sesama manusia.

Baca Juga  Ini Alasannya Bank Riau Kepri Disulap jadi Syariah

Seumpamanya kamu bertemu dengan temanmu. Jika kamu berbicara, atur tutur katamu, dan sampaikan dengan manis. Kabar yang kamu bawa harus kabar baik, agar hatinya senang dan lega mendengarnya. Jangan kamu bicara tentang kejelekan. Atau senang ngrasani kejelekan orang lain. Sebab sesungguhnya, tabiat seperti itu banyak yang benci. Disingkiri orang. Dan kamu disebut orang yang kurang berbudi.

Seumpama ada tamu, segera kamu temui. Datanglah cepat. Songsong dia. Siapkan tempat duduk yang bersih. Kamu harus sopan dan santun. Syukur-syukur bisa menjamunya. Namun kendati tak bisa menjamu, tetapi kalau sudah disuguhi senyum manis, bicara yang baik dan bersahabat, seperti saudara sendiri, maka ia akan terkesan. Tamu senang, dan tidak cepat pulang.

Jika kamu menemui tamu dengan cemberut, yang bertamu akan takut. Dikira galak. Dikira pemarah. Dikira tidak lumrah. Dikira tidak mau menghormat terhadap sesama. Watak yang sopan santun itu sangat baik. Karena dari watak itu akhirnya akan menemukan kebaikan. Keselamatan. Banyak kenalan. Dihormati sesama. Disenangi sahabat. Banyak yang suka.”

Baca Juga  Woww, Sutradara Hollywood Angkat Kehidupan Pesantren Jawa Timur

Mendengar petuah itu, semua istri Gatolotjo ini menunduk. Mereka meresapkan kata-kata itu. Mendengarkan melalui telinga kiri. Masuk ke dalam hati menjadi pepundi. Mendengarkan melalui telinga kanan. Menyelusup dalam otak beranak penalaran. Dan hasilnya, tatkala keduanya bertemu dan menyatu, maka lahirlah keluhuran budi. Suatu sikap yang patut ditauladani. jss/bersambungf

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close