Berita Lokal PekanbaruKhazanah

Suluk Gatolotjo (23) : Berlagu Tak Jelas Iramanya

Oleh : Djoko Su’ud Sukahar

Lelaki kurus kering, dekil, dan jorok ini tertawa terbahak-bahak. Kepergian keduanya dianggap sebagai pihak yang salah. Kalah dalam berdebat. Kalah dalam bersikap.

Metropekanbaru.com, PEKANBARU-Lelaki lanangane jagad ini kembali pada gaya aslinya. Methingkrang, merokok, sambil mengeluarkan kata-kata umpatan dari mulutnya. Cacian dan olok-olok bernada filosofis.

Di tengah kesendiriannya, Gatolotjo terus nyerocos. Ia menghadap ke batu dan ke pohon. Mengudar segala persoalan yang terus berputar dalam otaknya. Mengisahkan tentang pencarian kesejatian diri, tentang religiusitas, yang memberikan kekuatan untuk hidup. Dan dia terus melangkah ke depan dengan gagah.

Tatkala matahari semakin terang, membakar ubun-ubun, Gatolotjo segera bangkit dari duduk panjangnya. Ia berjalan, bernyanyian di sepanjang jalan. Berdendang, melagukan pantun-pantun berirama.

Kerbau merah (sapi) umpannya, sekali lagi ketemu bibis (serangga air) kecil dan tasik (undur-undur), aku tidak mundur berbantah pengetahuan. Mangga besar berbau (kuweni), kapas yang selalu berubah warna (slira). Sekarang, sebaiknya aku menunggu dan bernyanyi saja.

Gude yang menjalar (kara) dan kembang hitam (telasih), aku masih berani. Batang padi (dami) untuk pengayuh sampan (welah), aku tidak akan kalah untuk beradu apa saja. Namanya rumah dan sarang burung (susuh), lawanmu adalah guru bingung yang bodoh. Lagu ini bernama uler kambang (lintah). Aku sangat senang berbantah ilmu. Tetapi dasar belut berbisa (ular), maka jika ditinggal sendirian hatiku kecewa. Mendung putih (mega), kunir pita (temu), mudah-mudahan kita bertemu lagi.

Tapi panah yang disiapkan (kemada), selanjutnya kemana saja. Kayu yang dirupakan manusia (golekan), apa mencari guru. Maka jika gula ditaruh di atas minyak (madu) akan aku adu. Dan jika aku pangkas rambut (cukur) itu tanda syukur.

Beberapa jangkrik besar di dalam kebun (gangsir). Aku tidak menyingkir seperti anaknya kambing (cempe). Apa saja maunya aku ladeni. Bakul besi (wengku) umpamanya. Mengajak apa saja kamu, untuk berdebat satu meja, aku akan layani sampai kapan saja. Biar pun kentang menjalar (ketela), mencerminkan kejelekan rupaku.

Aku adalah biawak yang hidup di air (slira). Kalau hanya perkara debat soal ilmu, maka bulu baunya burung (elar). Semua nalar aku tak takut, karena sesungguhnya lebih pandai aku daripada para guru. Maka kaca untuk mata (tesmak) tidak lumrah, rangka (srikaya) akan kesulitan jika kamu cari kalimat.

Berbisa rumit daunnya (rawe), jangan biarkan aku lama menunggu. Guru mana bantuanmu, meskipun lebih pandai, aku berani menandingi. Jangan membantah pengetahuanku. Sebab kehendak Hyang Widi, ragaku sesungguhnya hanya untuk berbakti saja.

Gatolotjo hatinya senang. Ia berjalan perlahan. Menundukkan kepala, memandangi rumput-rumput liar yang ada di bawah. Gayanya bak anak kecil, yang berlaku seenaknya, tak peduli lingkungan dimana ia tinggal. Ia menoleh dan masuk gardu. Duduk mengangkat sebelah kaki, mengambil rokok dari sakunya yang lusuh.

Sebatang puntung terselip di mulutnya. Dibakar, dan diisapnya dalam-dalam. Badannya direbahkan, tubuhnya terasa gatal-gatal. Tangan yang satu memegang rokok, satunya lagi terus beroperasi. Menggaruk-garuk bagian tubuh yang burik dan gatal karena penuh borok. jss/bersambung

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close