Berita Lokal PekanbaruKhazanah

Suluk Gatolotjo (17) : Suluk Ini Bermula Dari Jiwa Gundah

Oleh : Djoko Su’ud Sukahar                                         

Tanpa sebab yang jelas, tiba-tiba timbul perasaan prihatin yang berlebihan. Karena bingung yang teramat sangat itu, maka batin pun terasa letih. Dalam keadaan seperti itulah serat Gatolotjo ini ditulis. Tujuannya, selain untuk pelipur lara, juga untuk menentramkan jiwa yang sudah terlanjur gunda-gulana.

Metropekanbaru.com, PEKANBARU-Sebagai pembuka kisah, diceritakan ada tiga orang Kiai di Pondok Rejasari. Ketiganya pandai mengajarkan ilmu. Banyak santri yang tertarik belajar kepada mereka.

Suatu hari, usai subuh, setelah melakukan sembahyang, ketiganya berganti pakaian. Maklum, mereka akan melakukan perjalanan jauh.

Memasuki fajar, mereka berkemas. Berangkat bersama-sama. Ada enam santri yang mengikuti di belakangnya. Mereka membawa berbagai bekal. Perlengkapannya, diantaranya sajadah dan kitab yang jumlahnya dua puluh empat buah.

Mereka bermaksud mengunjungi sebuah pondok di Tjepekan, dimana tinggal seorang guru santri tersohor. Namanya Kiai Hasan Besari.

Kiai ini terkenal paling pintar di antara yang lain. Berbagai ilmu  telah dikuasai. Semua guru berguru kepadanya. Tidak ada yang mampu mengimbangi ilmunya. Tak heran pondoknya besar karena muridnya banyak. Menurut kabar, jumlah santrinya mencapai ratusan orang.

Kembali pada rombongan yang sedang melakukan perjalanan. Mereka semua menuju arah barat. Cuaca saat itu sedang cerah. Makin siang, makin jauh jarak yang mereka tempuh. Sementara sinar matahari begitu panasnya.

Sesaat kemudian, mereka pun istirahat. Di pinggir jalan. Di bawah pohon beringin yang rimbun. Sejuk dan tenang. Kain yang dibawa digelar di bawah pohon yang teduh. Semua duduk bersimpuh.

Tongkat yang dibawa sang kiai ditancapkan di tanah. Seluruh murid duduk membentuk jajaran. Dari bibir ketiga guru terdengar suara perlahan memuji, sambil menghitung tasbih.

Enam muridnya mengikuti kemudian. Melakukan zikir, mengingat Allah. Tubuh mereka berlenggak-lenggok. Manggut-manggut dan geleng-geleng kepala.

Di tengah suasana khusyuk itu, tidak lama kemudian dari kejauhan terlihat sesosok manusia berjalan mendekat. Tubuhnya pendek kecil berambut keriting. Wajahnya kusam. Mata juling dan kedua alisnya bertemu.

Hidung lelaki itu pesek, mulutnya kecil. Gigi menonjol keluar, tetapi putih. Bibirnya tebal berwarna biru. Dagu besar menonjol. Telinga mengkerut. Leher pendek dan besar.

Bahu ramping tipis. Tangan pendek dan kuat. Jari-jari tangannya tak beraturan. Dada berlekuk-lekuk. Perut melembung dan pantat menggantung. Dengkulnya membentuk huruf x dengan jalannya tertatih-tatih. Ditambah kulitnya bersisik gelap dan nafasnya kembang-kempis, maka laki-laki ini selalu tampak seperti kecapaian.

Tongkat yang dibawa lelaki itu bambu tutul yang rajin digosok. Warnanya belang kemerah-merahan. Bertingkat tiga hiasannya. Ujung bawah, tengah dan ujung atas. Timah yang dipasang sebagai konde berwarna hitam tua. Sayang keropos karena sering terkena asap, karena tiap hari bawaannya adalah tembakau lima gulung.

Perlahan ia duduk mendekati ketiga guru itu. Nafasnya mendengus, tersendat-sendat. Baunya apek dan sangit. Bau itu menerpa santri yang sedang istirahat.

Tanpa permisi, laki-laki yang kemudian dikenali bernama Gatolotjo itu segera mengeluarkan barang bawaannya. Puntung rokok yang disimpan di lipatan celana. Setelah itu segera menyalakan api.

Dengan tenang disulutnya puntung rokok itu. Dia hisap dalam-dalam. Dia biarkan asapnya bebas merdeka, bergulung-gulung mengisi angkasa. Asap itu menyebar kemana-mana. Mengena siapa saja.

Semua santri keblebek oleh bau rokok yang sangat sangit itu. Mereka menunduk dan memalingkan muka. Sebagian menutup hidung, yang lainnya terbatuk-batuk dan pindah tempat duduk. Semua santri beralih di belakang guru. Mereka berusaha menghindari bau. (bersambung/Djoko Su’ud Sukahar)

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close