KhazanahNasionalNews

Setelah Cadar, Kini Celana Cingkrang Juga Dipermasalahkan

Oleh: Herry M Joesoef

Metropekanbaru.com, Jakarta – Bukan hanya pemakai cadar yang diancam oleh Menteri Agama, Fachrul Razi. Tetapi mereka yang memakai celana cingkrang juga diancam. Mereka tidak boleh masuk ke kantor-kantor pemerintahan. Apalagi jadi pegawai, jadi aparatur sipil negara (ASN). Bisa jadi, setelah cadar dan celana cingkrang dilarang, lelaki berjenggot juga akan dilarang. Mari kita ikuti narasi tentang celana cingkrang dan jenggot, berikut ini.

Tak bisa disangkal, sebagian kaum muslimin memakai celana cingkrang. Mereka berpendirian, bahwa celana cingkrang adalah salah satu sunnah Nabi Shlalallahu ‘Alaihi wa Sallam. Beliau bersabda:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلاَءَ لَمْ يَنْظُرْ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ إِنَّ أَحَدَ
شِقَّيْ ثَوْبِي يَسْتَرْخِي إِلاَّ أَنْ أَتَعَاهَدَ ذَلِكَ مِنْهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّكَ لَسْتَ تَصْنَعُ ذَلِكَ خُيَلاَءَ (صحيح
البخاري، 3392)

Dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu Anhuma, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,
“Barang siapa yang memanjangkan pakaiannya hingga ke tanah karena sombong, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan melihatnya (memperdulikannya) pada hari kiamat.” Kemudian sahabat Abu Bakar bertanya, sesungguhnya bajuku panjang namun aku sudah terbiasa dengannya. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa
Sallam bersabda, “Sesungguhnya engkau tidak melakukannya karena sombong”(HR. Imam Bukhari: 3392)

Hadits ini jelas. Persoalannya bukan pada memanjangnya celana, tetap lebih pada adanya unsur sombong. Memakai celana panjang yang menjuntai sampai ke tanah dengan sikap yang sombong dan angkuh, itulah yang dilarang. Tetapi, jika memakainya wajar-wajar saja, tidak sampai menjuntai dan menyapu tanah, dan tidak sombong, itu boleh-boleh saja. Lagian pula, untuk apa memakai celana panjang yang sampai menyapu tanah, bukankah kemungkinan terkena najis sangat tinggi?

Itulah yang disebut isbal, menjuntaikan pakaian hingga ke bawah. Hal ini berlaku untuk semua jenis pakaian,
tidak hanya celana. Tetapi juga sarung, gamis, bahkan jilbab. Intinya, tidak diperkenankan memakai pakaian
dengan cara-cara yang berlebihan, apalagi disertai sifat sombong. Begitu pula dengan memakai celana
cingkrang tapi sombong, menganggap apa yang ia lakukan adalah yang paling benar, ini juga mesti dihindari,
karena ada unsur sombongnya.

Jenggot

Bukan tidak mungkin, setelah cadar, celana cingkrang, jenggot pun akan disoal. Tentang jenggot ini, salah
satu dasarnya adalah hadits yang dinarasikan oleh Ibnu Umar:

عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ خَالِفُوا الْمُشْرِكِينَ وَفِّرُوا اللِّحَى وَأَحْفُوا الشَّوَارِبَ وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ إِذَا حَجَّ أَوْ اعْتَمَرَ قَبَضَ عَلَى لِحْيَتِهِ فَمَا فَضَلَ
أَخَذَه صحيح البخاري، 5442)

“Tampillah kalian berbeda dengan orang-orang musyrik, peliharalah jenggot dan cukurlah kumis”. Ketika Ibn
Umar melaksanakan haji atau umrah, beliau memegang jenggotnya, dan ia pun memotong bagian yang melebihi
genggamannya.” (HR. Imam Bukhari: 5442)

Dari hadits tersebut diatas, jelaslah bahwa alasan utama dari memelihara jenggot adalah sebagai pembeda
dengan kaum musyrik yang memelihara kumis. Hukumnya sunnah. Bagi mereka yang tidak keluar jenggotnya, ya
tidak apa-apa, tidak perlu diada-adakan. Atas dasar hadits tersebut diatas, dan Ibnu Umar yang memotong
jenggotnya sampai sekepalan, Ibnu hajar Al-Asqolani, pensyarah kitab Shahih Bukhari mengeluarkan fatwa,
“Rapikan jenggot sampai sekepalan tangan.” Intinya adalah untuk merapikan, tidak membiarkan sampai
menjuntai berkelebihan.

Pertanyaannya, apakah celana cingkrang dan jenggot akan dilarang di negara yang mayoritas penduduknya Islam ini? (HMJ)

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close