Berita Lokal PekanbaruNews

Sambang Suku Sawai di Surga Pulau Seram

Oleh : Djoko Su’d Sukahar

Suku Sawai kaya tradisi. Di daerah suku ini tinggaljuga terdapat sumber air tawar. Ditambah lautnya yang bersih, serta ikan dan biota laut lainnya yang belum tercemar, menjadikan Suku Sawai seperti berada di tanah surga.

Metropekanbaru.com, MASOHI-Ada teluk indah di daerah ini. Itu seperti sebuah ceruk yang dibatasi bukit batu yang menjulang tinggi. Bukit itu masuk hingga ke dalam laut, ditumbuhi karang dan dihuni kerang, serta ikan-ikan, termasuk dugong (ikan duyung).

Saking jernihnya air laut yang ada di daerah ini, seluruh yang hidup di dasar laut itu terlihat dari atas. Dipayungi bukit batu hitam yang memayung tinggi, maka jika sore tiba, area ini seperti kawasan wisata alam.

Keindahan di kawasan Suku Sawai tinggal itu sudah dikenal lama. Di era penjajahan dulu, Belanda selalu berlibur di wilayah ini. Ada air terjun yang menyisakan masa lalu itu, namanya Air Belanda.

Suku Sawai adalah suku laut. Mereka mengandalkan hidup dari lautan. Sebagai nelayan, dan juga budidaya teripang. Ini yang menjadikan Suku Sawai hidup dalam kecukupan, tenang dan damai.

Ternak teripang adalah salahsatu penopang ekonomi mereka. Menggaris bibir pantai pakai jaring halus. Dan benih teripang sebesar jari kelingking itu ditebar di dalamnya. Itu dibiarkan hingga besar, sampai saatnya dipanen.

Suku Sawai yang mayoritas beragama Islam itu melakukan budidaya teripang. Mereka yang menempati kawasan Pulau Seram bagian utara itu memanfaatkan gigir pantai. Untuk sampai ke tempat Suku Sawai tinggal harus melalui Teluk Saleman. Dan di pantai yang berhadapan laut lepas itulah suku ini tinggal.

Suku Sawai adalah bagian dari suku laut. Sebagian saudaranya sudah tak terlacak, karena terserak di banyak pulau. Mereka merapat di pantai ini ratusan tahun lewat, dan kawin-mawin sesama suku atau lintas suku yang berdekatan.

Suku Sawai adalah nelayan. Laut yang acap bergejolak, membuat beberapa keluarga suku ini memanfaatkan lahan pantai yang ada. Dengan jaring mereka mencari pendapatan lebih. Itu untuk mensiasati jika musim ikan sedang sepi.

“Ini saya lakukan untuk menambah pendapatan, bapa. Saya juga punya tabungan di ceruk yang tidak diketahui teman, dan saya ambil kalau ikan sedang susah didapat. Juga ada tabungan sirip hiu,” katanya saat ditemui di rumah panggungnya.

Malam-malam berbicara dengannya amat menyenangkan. Juga pandangannya tentang suku, dirinya, dan anak-anaknya. Di tengah alam terisolasi itu, kita seperti diajak merenung dan introspeksi diri, bahwa hidup kadang memang tidak gampang.

Jika pagi datang, Martus, nama laki-laki itu, mengajak saya turun rumah. Di bawah rumah-rumah panggung itu perahunya ditambatkan. Dengan riang kita berkayuh, dan tak lama sudah ada di pulau seberang. Pulau kecil dengan tanaman buah-buah liar, yang sepetak pantainya dipancang jaring untuk ternak teripang.

Binatang seperti ulat laut itu seperti tidak bergerak. Tapi jika kita saban pagi datang, binatang itu hampir semuanya sudah berada di luar jaring. Kita punguti teripang yang ada di luar itu, untuk dikembalikan ke dalam jaring.

Jika sudah siang menjelang, maka kita naik ke daratan. Mencari jambu atau buah-buahan lain untuk minum dan pengganjal perut. “Kita pulang saja bapa, maetua (istri) sudah siapkan makan siang. Pasti bapa lapar,” katanya.

Lapar ya. Tapi kelaparan tidak. Saking asyiknya menemani Martus itu, jadwal tinggal yang seharusnya tidak sampai seminggu itu membengkak menjadi tiga minggu. Kulit menjadi hitam legam terpanggang matahari setiap hari.

Saban hari ada saja kesibukan bersamanya. Kalau tidak mencari ikan dan memunguti teripang yang keluar jaring, juga mencari bia. Ini adalah kerang dalam bahasa setempat.

Kerang ini tak asal kerang. Sebab kerang itu sangat besar, dan sulit untuk dibedakan antara kerang dan karang. Kerang-kerang itu meraksasa, dengan tubuh yang juga ditumbuhi karang.

Saat waktunya saya kembali pulang, Martus sempat meneteskan airmata. Dia terharu. Juga saya. Maklum, bermiggu-minggu bersama, seperti anak-anak yang keasyikan bermain. Dia memberi oleh-oleh rumah kerang gede-gede yang berserakan di dasar laut.

“Nanti datang lagi bapa. Saya rindu kedatangan bapa. Saya sekeluarga merasa bahagia bapa ada disini,” katanya menangis, saat saya pamit. jss

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close