Berita Lokal PekanbaruNews

Rita Wulandari : Jangan Larang, Tapi Kontrol Gadget Anak

Oleh: Suandri Ansah

Metropekanbaru.com, JAKARTA– Kepala Unit Penyidikan di Subdit I Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, AKBP Rita Wulandari Wibowo memaparkan tips mencegah pelecehan dan kekerasan seksual lewat media sosial terutama bagi Anak. Polri menamaninya dengan tips KETAPEL.

Pertama huruf K yang berarti Kontrol. Orang tua perlu melakukan kontrol rutin untuk mengetahui aktivitasnya di media sosial. “Jadi rajinlah melihat histori anak,” ujar Rita di Mabes Polri, Senin (22/7).

Kedua empati (E), orang tua diminta menyikapi keluhan dan cerita anak dengan penuh empati. Tumbuhkan kedekatan emosional, batasi diri dari gadget dan luangkan waktu mendengarkan keluhan, pertanyaan dan membuka rahasia anak.

“Dari kasus yang kami temui kami justru kesulitan menyentuh hati orang tua saat melihat konten anaknya, justru yang mengalami trauma psikis adalah orang tuanya,” kata Rita.

Rita mengungkapkan, orang tua harus menyediakan waktu khusus curhat dengan anak. Melakukan sesi konseling untuk membuka keluhan anak yang dipendam.

“Ketika dengar cerita sepahit apapun berusahalah ekspresi datar tidak marah. Anak ini akan menutup diri kalau orang tua marah,” katanya. Inilah konsep T, atau Tahan emosi saat mendengar cerita pahit atas peristiwa yang dialami anak.

Kemudian Amankan foto, video, dan percakapan (simpan/capture), no telpon atau no whatsapp orang yang berkomunikasi dengan anak. Simpan juga nama akun, email dan link url yang dikirim oleh orang tak dikenal.

Lalu, Password gadget anak dan privat akun media sosialnya. Meskipun anak sudah terbiasa dengan penguncian tetap perlu dilakukan agar anak tak tergantung dengan gadget dan menggunakan dengan seizin orang tua

E, edukasi di rumah dan di sekolah tentang etika di medsos dan bijak berinternet. Bagaimana cara berkomunikasi lewat media sosial.

Terakhir, Lapor ke patrolisiber.id jika mengalami pelecehan online. Datang ke Unit PPA (Pelayanan Perempuan dan Anak) di PoIres atau P2TP2A (Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak) jika mengalami kekerasan seksual. (*/Dry)

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close