NasionalNews

Rektor UGM Larang UAS Ceramah, MIUMI: Lucu, Kampus Besar Disetir Alumni

Oleh: Ahmad ZR

Metropekanbaru.com, Jakarta – Rencana kuliah umum Ustaz Abdul Somad (UAS) di Masjid Kampus Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta tanggal 12 Oktober 2019 dibatalkan. Penolakan itu datang dari Rektor UGM Panut Mulyono dan menginstruksikan agar takmir masjid menolak UAS ceramah.

Penolakan Rektor UGM itu disampaikan lewat Wakil Rektor Bidang Pendidikan, Pengajaran dan Kemahasiswaan, Djagal Wiseso, dan Wakil Rektor Bidang SDM dan Aset, Bambang Agus Kironoto, kepada Ketua Takmir Masjid Kampus UGM, Mashuri Maschab. Salah satu alasannya, UGM mendapat desakan dari alumni.

“Ini lucu, masa kampus bisa disetir oleh alumni. Jika benar, apakah semua alumni UGM menolak UAS?” kata Ketua MIUMI Kota Bekasi, Ustaz Wildan Hasan, kepada Indonesia Inside di Jakarta, Kamis (10/10).

Pengurus MUI Kota Bekasi Komisi Pengkajian dan Penelitian ini sangat menyayangkan penolakan rektorat UGM terhadap kedatangan Abdul Somad. Menurut dia, kampus yang semestinya terbiasa dengan dialektika dan ramah terhadap perbedaan, namun tidak dapat ditunjukkan oleh UGM.

“Sebuah kampus besar yang menjadi barometer Perguruan Tinggi di Indonesia. Apalagi kegiatannya dilaksanakan di masjid bukan di ruang kuliah atau aula kampus,” kata Wildan.

Padahal, seorang ustaz rasanya tidak pantas ditolak oleh masjid. Apalagi untuk kepentingan dakwah. Abdul Somad memang tegas tapi yang disampaikan adalah kebenaran.

Wildan menyatakan, penolakan kedatangan UAS untuk memberikan kajian adalah musibah besar bagi dunia keilmuan. Musibah yang mengerikan tatkala dunia pendidikan diintervensi terlalu dalam oleh kekuasaan.

“Siapa pun dapat menduga bahwa pembatalan itu lebih karena ada pihak yang tidak menginginkan seorang anak bangsa yang kritis terhadap kedzaliman dan tegak berjalan di atas kebenaran dibiarkan bebas begitu saja,” tuturnya.

Anggota Majelis Tafkir PP Persis ini menduga narasi besarnya tidak keluar dari agenda politik marginalisasi umat Islam dengan isu radikalisme seperti disuarakan selama ini. Jualan radikalisme ini memapar banyak kalangan termasuk para pejabat di dunia Kampus dan lembaga lembaga pendidikan lainnya.

“Nah, UAS dikategorikan sebagai sosok yang radikal karena berpihak kepada rakyat dan kebenaran,” katanya.

Tak heran, Wildan mengatakan, UGM telah kehilangan integritasnya. Karena ilmu sudah disumbat, sangat boleh jadi ke depan UGM bukan lagi kampus favorit untuk menimba ilmu.

“UGM akan ditinggalkan para penuntut ilmu karena mereka tidak mendapati ilmu di sana tapi penjara akal dan kepribadian,” katanya.

Ia menambahkan, UAS tidak akan jadi kecil dengan pelarangan itu. Bahkan semakin dicinta oleh para penuntut ilmu.

“Biarkan dan dukung UAS sebagai universitas berjalan yang menjadi mercusuar penuntun anak-anak bangsa ke arah peradaban yang lebih baik,” kata founder Rumah Baca ‘Baitul Hikmah’ Bekasi itu.

Sebelumnya, beredar undangan kuliah umum bertajuk Integrasi Islam dengan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek). Agenda itu hendak dilaksanakan di Masjid Kampus UGM, Sabtu (12/10) mendatang.

Kuliah umum tersebut bertema ‘Islam dengan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek): Pondasi Kemajuan Indonesia’. Kegiatan tersebut rencananya akan dimulai Sabtu pukul 12.45 WIB hingga selesai.

Agenda itu rencananya diisi dua pembicara, ada Prof Heddy Shri Ahimsa Putra dan Ustaz Abdul Somad. Menurut Kepala Humas dan Protokol UGM, Iva Ariani, pembatalan dilakukan karena kegiatan-kegiatan itu tidak selaras jati diri UGM.

“Hal tersebut dilakukan untuk menjaga keselarasan kegiatan akademik dan kegiatan nonakademik dengan jati diri UGM,” ujar Iva.

Hingga kini, pembatalan itu masih menjadi polemik. Namun, Iva menambahkan, surat pembatalan atau penolakan yang dikeluarkan Rektorat UGM sudah dalam proses untuk dikirim ke Takmir Masjid UGM.

“Berkaitan dengan acara yang rencananya akan diselenggarakan 12 Oktober 2019, maka pimpinan UGM meminta agar acara tersebut dibatalkan,” ujar Iva, Kamis (10/1).

Dalam pertemuan terungkap Rektor UGM tidak mengizinkan UAS mengisi acara di Masjid Kampus UGM, sehingga meminta takmir masjid untuk membatalkan acara tersebut. Iva menuturkan pihak Kampus telah menemui Takmir Masjid untuk berkomunikasi terkait pembatalan acara ini. (Aza)

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close