Berita Lokal PekanbaruNewsRamadhan Kita

Ramadan di Kampung Naga (1) : Melihat Ritus Mandi Bareng di Sungai

Oleh : Djoko Su’ud Sukahar

Kampung Naga memang unik. Di kampung ini, selain rumah-rumahnya tidak boleh ditembok, masyarakatnya juga tetap taat pada tradisi. Inilah laporan dari Kampung Naga yang terletak di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya.

Metropekanbaru.com, TASIKMALAYA-Kampung Naga merupakan sebuah komunitas Sunda asli. Di kampung ini, rumah-rumah kuno berdiri, berjejer memanjang, menyerupai barisan gerbong kereta api. Ornamen bangunannya khas. Mencerminkan budaya yang dilestarikan dari adat budaya leluhurnya.

Untuk memasuki perkampungan ini, orang harus berjalan menyusuri jalanan beton yang melingkar dan berundak-undak. Panoramanya indah. Ditambah tiap rumah terdiri dari bangunan kayu dengan atap serabut ijuk, serta dindingnya terdiri dari anyaman bambu, maka kesan kuno itu gampang menyergap.

Dalam suasana alam yang indah dan klasik itulah kenikmatan, utamanya di saat Bulan Ramadan terpancar di kampung ini. Dipilih Bulan Suci  untuk menuliskan laporan ini agar keunikannya semakin kental. Kendati adat-istiadat kehidupan di Kampung Naga berjalan seperti kampung lain, tapi tetap saja ada beberapa hal yang beda dan unik.

Maklum. Di Kampung Naga ini, selain budayanya yang berbeda, terutama dalam soal hak waris yang tidak  memakai hukum paro`id -wanita dan pria dibagi sama rata-, dalam beberapa kebiasaan yang lain juga mempunyai banyak perbedaan.

Bahasa yang dipakai masyarakat Kampung Naga adalah Sunda biasa. Pakaiannya juga tak berbeda. Hanya, untuk sesepuh di daerah ini dijuluki sebagai kuncen. Orang inilah yang memakai pakaian khas, di kepalanya selalu terpasang bendo (ikat kepala terbuat dari kain). Dialah tokoh Kampung Naga.

Baca Juga  Perang Afghanistan-Taliban Sudah Tewaskan 3.812 Warga Sipil

Untuk bertandang di kampung ini menarik jika mendekati bulan puasa. Dalam menyambut bulan Ramadan, ada beberapa tradisi yang dilakukan warga Kampung Naga. Sebelum bulan suci itu datang, untuk menyambutnya, seluruh warga diharuskan mengadakan upacara keramasan. Mereka mandi bareng di sungai keramat daerah ini.

“Sebelum dilaksanakan upacara itu, kuncen membaca doa dan diteruskan dengan turun ke sungai. Itu dilakukan anak-anak yang menginjak dewasa sampai orang tua,” jelas kuncen.

Nilai filosofi dari upacara mandi bareng itu, masyarakat di Kampung Naga lebih mengutamakan kebersamaan dan pengorbanan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam upacara ritual mandi bareung itu, untuk wanita dipisahkan dengan kaum pria, kecuali anak-anak. Sedangkan etika mandi keramas ini, wanita diharuskan memakai kain panjang yang dililitkan untuk menutupi auratnya.

Saat ritual itu digelar, maka suasana di sungai itu nampak lebih  semarak. Sebab seluruh warga Kampung Naga turun beramai-ramai ke sungai dengan bersenda-gurau. Mereka bergembira sekaligus menjalin persaudaraan antar sesama.

Untuk bacaan doa keramas ini tak berbeda dengan umat Islam di daerah lain. Dan setelah melaksankan kegiatan itu, malamnya mereka mengadakan salat tarawih di balai atau suro yang dipimpin oleh sesepuh Kampung Naga.

Baca Juga  Cerah Berawan, Siang Ini Riau Diprediksi Panas Terik

Selain ritual itu, masyarakat di daerah ini juga punya kebiasaan lain menjelang datangnya bulan ramadhan ini. Mereka pantang berbicara asal-usul dan silsilah leluhurnya pada setiap hari Rabu. Untuk itu, bila ingin mengorek keterangan tentang sejarah Kampung Naga di bulan ramadhan jangan banyak berharap.

Saat  mendatangi tempat itu, kebetulan kuncennya sedang ada halangan. Hanya bisa bertemu dengan mantan kuncen lama, Kang Ateng. Menurut Kang Ateng, kebiasaan itu hampir setiap datang ramadhanan selalu diadakan di Kampung Naga. Itu merupakan budaya lama nenek moyang yang biasa melakukan saat menjelang bulan puasa tiba.

Setelah upacara keramasan bareung-bareung selesai, dilanjutkan dengan menumbuk padi untuk persiapan menghadapi ramadhanan. Dalam menumbuknya, semua warga antri. Mereka kebagian untuk menumbuk. Berkuintal-kuintal gabah itu ditumbuk pakai lesung dan alu kramat sampai menjadi beras yang siap untuk dimasak.

Dan setelah acara itu, diteruskan dengan memotong binatang peliharaan ayam jantan, lalu dimasak ramai-ramai. Setelah itu warga Kampung Naga hari itu melangsungkan kegiatan makan bersama atau dengan istilah umumnya munggahan bersama.

Padi yang ditumbuk hingga dimasak dilengkapi dengan lauk-pauknya, dimakan bersama-sama seusai upacara keramasan di sungai itu. Akhirnya kegiatan itu selesai. Itu prosesi hari pertama menyambut datangnya bulan suci ramadhan di Kampung Naga. (bersambung/jss)

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close