Berita Lokal PekanbaruRamadhan Kita

Rabi’ah Dari Basrah (9) : Melihat Rabi’ah Sufyan Menangis

Oleh : Djoko Su’ud Sukahar

Hasan pun masuk ke dalam dan berbicara pada Rabi’ah tentang pedagang yang dengan tulus ikhlas ingin membantu kesembuhan Rabi’ah. Apa jawab Rabi’ah?

Metropekanbaru.com, PEKANBARU-“Bukankah Allah tidak akan mengambil rezeki dari orang yang mencela-Nya. Bagaimana mungkin orang yang mencela Allah SWT, memberi sesuatu kepada orang yang hatinya bergelora mencintai-Nya? Semenjak aku mengenal-Nya, aku berpaling sama sekali  dari semua makhluk ciptaan-Nya.

Dan apabila aku tidak yakin apakah harta itu halal atau tidak, maka bagaimana mungkin aku dapat menerimanya? Katakan padanya, bahwa aku mohon maaf atas penolakanku ini.”

Begitu juga dengan ‘Abdul Wahid ‘Amr dan Sufyan ats-Tsauri ketika mengunjunginya. ‘Abdul menceritakan, “Aku dan Sufyan berkunjung ke rumah Rabi’ah pada saat ia terbaring sakit. Saat masuk ke dalam rumahnya, dan melihat kondisi tubuhnya, aku tak mampu mengeluarkan sepatah-kata pun. Hatiku rasanya menangis melihat itu. Akhirnya aku menyuruh Sufyan untuk berbicara pada Rabi’ah. “Andaikata engkau memohon pada Allah untuk meringankan penyakitmu ini, Rabi’ah?”

Rabi’ah pun menjawab, “Wahai Sufyan, tidakkah engkau tahu bahwa penderitaan ini kehendak-Nya? Jika mengetahui, mengapa engkau membujukku agar menentang kehendak-Nya? Tidak baik menentang kehendak Kekasih Yang Mencintai.”

Lalu Sufyan menimpali, “Wahai Rabi’ah, apa sebenarnya yang engkau inginkan?”

“Sufyan, engkau adalah orang yang pandai dan berilmu. Bagaimana bisa kamu bertanya begitu kepadaku. Selama dua belas tahun aku menginginkan makan kurma segar. Aku tahu betapa banyaknya buah seperti itu di Basrah. Tetapi aku belum pernah makan sebiji pun. Aku hanya seorang budak, dan apa pula yang dapat dilakukan seorang budak? Jika aku menginginkan sesuatu tetapi Allah tidak menyetujuinya, bagaimana mungkin aku dapat menentangnya. Itu adalah kekufuran namanya. Seorang hamba sejati, patuh pada segala kehendak-Nya. Lain cerita kalau Dia memberiku.”

Mendengar penegasan Rabi’ah itu, Sufyan pun terdiam seribu bahasa. (bersambung)

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close