Berita Lokal PekanbaruRamadhan Kita

Rabi’ah Dari Basrah (10) : Rumah Reot Jendela Daun Sawit

Oleh : Djoko Su’ud Sukahar

Kezuhudan wanita suci Rabi’ah al-Adawiyyah sangat tinggi. Muhammad bin Amr bahkan menggambarkan keadaan rumah Rabi’ah yang menyedihkan. Saat ia datang ke rumahnya, Rabi’ah telah berumur 80 tahun. Sangat tua, bahkan kulitnya sudah sangat keriput.

Metropekanbaru.com, PEKANBARU– Di dalam rumah itu hanya terdapat tikar yang terbuat dari alang-alang. Di atas tikar ini terletak kerudung wanita itu. Tirai jendelanya terbuat dari daun sawit. Selain itu, perabot lain yang ia miliki hanyalah kendi yang terbuat dari tanah. Serta tempat tidur yang dialasi kain wol, yang juga berfungsi sebagai sajadahnya.

Salah seorang teman Rabi’ah, Malik Dinar, suatu ketika menjumpai Rabi’ah tidur di atas tikar kusam. Sebagai bantal, ia menggunakan batu bata. Jika mandi, Rabi’ah menggunakan pecahan bata untuk menggosok tubuhnya. Sedangkan untuk minum ia pakai pecahan kendi.

Melihat itu Malik sangat tersentuh. Sedih hatinya. Kondisi Rabi’ah amat mengenaskan. Lalu ia berkata pada wanita itu. “Aku punya banyak kenalan orang kaya. Jika kau menginginkan, aku akan minta sebagian harta mereka untukmu.”

Apa jawaban Rabiah? “Wahai Malik, engkau telah membuat kesalahan besar. Bukankah Tuhan yang sama yang telah memberikan aku rizki dan juga rizki pada mereka, orang-orang kaya itu?”

“Memang benar,” sahut Malik.

“Apakah Allah akan melupakan kaum miskin karena kemiskinannya, dan mengingat kaum kaya karena kekayaannya?, ” kata Rabi’ah.

”Tentu tidak,” jawab Malik.

“Allah telah mengetahui keadaanku. Dan apa yang dikehendaki-Nya harus pula menjadi kehendak kita,” ungkap Rabi’ah. Mendengar jawaban itu, Malik pun terdiam.

Memang, jalan hidup Rabi’ah yang hanya didedikasikan untuk beribadah pada Allah, tercermin dari kisah-kisah para sahabatnya. Para penulis biografi wanita sufi ini juga mengungkapkan hal yang sama. Mulai bagaimana Rabi’ah menghabiskan waktunya di malam hari yang hanya untuk bermunajat pada Allah. Dan juga kesederhaan hidupnya yang nyaris meninggalkan semua kehidupan duniawi.

Munajat dan salat adalah pencerminan kecintaan Rabi’ah pada Allah. Terlebih lagi doanya, yang tak pernah henti, siang maupun malam. Salat dan munajat Rabi’ah tak tertandingi oleh umat Rasulullah lainnya. Sikap dan tingkahlakunya memberi gambaran kental, bagaimana kecintaannya yang begitu mendalam pada Allah. (bersambung/jss)

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close