Berita Lokal PekanbaruHumaniora

Poros Mistik Raja Jawa (13-Habis) : Ini Tembang Manusia Atau Setan?

Sebelum mencapai Pasar Setan tak ada salahnya mengasoh sejenak di Batu Gajah Mungkur. Masyarakat Selo menyebut Batu Gajah Mungkur karena batunya sebesar gajah dan posisinya membelakangi perkampungan.

Dari Batu Gajah Mungkur pemandangan indah dapat dinikmati. Menjelang matahari terbit, sinar mega di ufuk timur mulai nampak. Merah menyala menembus awan. Semakin lama matahari terus merangkak naik lepas dari kaki langit.

Panorama sangat indah, ketika awan berkejaran di atas kampung Selo, antara Gunung Merbabu dan Gunung Merapi. Sejajar dengan matahari, bayang-bayang Gunung Lawu nampak semakin jelas.

Sementara di sisi utara Gunung Merbabu dihiasi jurang-jurang, yang nampak jelas menggendong Gunung Telomoyo. Menoleh ke sisi barat, Gunung Sumbing dan  Gunung Sundoro terlihat tipis diselimuti awan. Lebih jauh ke barat Gunung Slamet (gunung tertinggi Tengah 3.432 Mdpl)  terlihata angker.

Ketika Matahari mencapai 30 derajat, pemandangan kian cantik. Awan putih membentuk garis tebal, bergulung melintas, mengelilingi kawah Merapi. Bersamaan dengan itu, masyarakat petani Desa Samiran bergelut dengan alam di lereng-lereng terjal.

Tembang-tembang  Jawa terdengar menggema di antara bukit sebagai pengusir rasa lelah.  Benarkah tembang-tembang itu suara manusia. Bukan suara yang berasal dari Pasar Setan? “Kalau itu memang suara manusia. Siang begini Pasar Setan tidak mengeluarkan suara aneh-aneh,” jawab Sumarno sambil terkekeh-kekeh. (hartono/djoko su’ud sukahar/habis)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close