Berita Lokal PekanbaruNews

Pimpinan Separatis Ini Dikenal Licin dan Suka Berpindah

Oleh : Achmad Syaiful |

Metropekanbaru.com, JAYAPURA– Jejak separatis Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) pimpinan Egianus Kogoya sudah terendus. Meski sulit dilacak, keberadaan tokoh KKB wilayah Nduga ini terus diikuti.

Dia memang dikenal licin dan berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Namun dia selalu meninggalkan jejak bersama komplotannya.

Komandan Kodim 1702 Jayawijaya, Letkol Inf Candra Dianto membenarkan Egianus Kogoya bersama pengikutnya telah turun gunung ke Kota Wamena. Namun, dia hanya memantau dari pinggiran kota.

“Memang benar Egianus ada di Wamena, tetapi yang kontak tembak kemarin bukan bagian dari kelompok Egianus Kogoya, namun dari kelompok di Wamena yang dulu dipimpin Yusak,” katanya.

Egianus dan pengikutnya masuk ke Wamena sejak 16 Agustus 2019. Mereka sempat melakukan pengadangan konvoi anggota TNI di Kilometer 39 Hebema yang menewaskan Pratu Sirwandi. “Egianus ini hanya memantau keadaan dari pinggiran kampung di sekitar Wamena hingga kontak tembak terjadi,” katanya.

Kedatangan Egianus ke Jayawijaya sempat menjadi tanda tanya. Candra pun menduga kuat pemimpin kelompok di Nduga ini akan melakukan serangan dalam aksi protes rasisme di Wamena. Dugaan ini setelah termonitornya pergerakan 30 pengikut Egianus Kogoya di Wamena.

Dia mengatakan, Egianus akan menyusup aksi di Jayawijaya, namun rencananya terbaca. Mereka jumlahnya cukup banyak sekitar 30 orang dengan persenjataan lengkap.

Dalam pergerakannya, Egianus Kogoya tergolong licin dengan mobilitas yang tinggi. Dia kerap berpindah-pindah hingga aparat TNI-Polri kewalahan. Aparat sudah memasang jaring untuk mencari posisinya.

“Dia termonitor pakai mobil lajuran tanpa plat. Ada dua kendaraan, itu yang dipakai untuk berpindah. Kalau dia menetap pasti kita tangkap,” kata Candra.

Pemimpin separatis bersenjata di wilayah Nduga ini dikait-kaitan dengan kontak tembak antara kelompok bersenjata dan TNI-Polri di Pasar Jibama, Kota Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Jumat (23/8).

Satu anggota separatis tewas tertembak dalam penyergapan itu. Korban tewas bernama Yusia Wandik (27) yang disebut-sebut sebagai warga Jayawijaya.

Sementara empat anggota separatis bersenjata lainnya lolos sesaat curiga kedatangan rombongan mobil aparat di sekitar Pasar Jibama. Mereka sempat melakukan perlawanan dengan menghujani tembakan kepada aparat yang mengejar.

Namun, Candra Dianto menyebutkan, kelompok separatis bersenjata yang terlibat dalam kontak tembak di Pasar Jibama, Wamena bukan pengikut Egianus Kogoya.

Pasca kontak tembak di Pasar Jibama, Egianus Kogoya terpantau telah bergerak menuju ke Distrik Mbua. Pergerakan Eginaus dan pengikutnya dilakukannya dengan berjalan kaki menyusuri hutan dan pegunungan yang membentang luas.

“Egianus kembali ke Mbua dengan jalan kaki, dia menggunakan rute klasiknya di belakang Batalyon, Lipi, kemudian Maso, kemudian tembus ke daerah Napua sampai ke Mbua. Jalan itu bisa tembus ke Timika, Lanny Jaya dab Nduga. Jalan-jalan itu yang dia pakai,” beber Candra.

Candra meyakin Egianus akan kembali ke Wamena untuk melancarkan sebuah rencana. Serangan ini tak dilakukan sendiri, melainkan berkolaborasi dengan kelompok Wamena dan Lanny Jaya.

“Egianus berencana menggabungkan kekuatan untuk suatu serangan, misalnya dengan kelompok pecahan Wamena ang dulu dipimpin oleh Yusak di daerah Piramid dan kelompok Lanny Jaya yang dikomandoi Purom Wenda dan Enden Wanimbo,” katanya.

Semenjak digempur oleh TNI-Polri, menurut Candra, kekuatan kelompok Wamena dan Lanny Jaya terus berkurang. “Mereka akan berkolaborasi dan biasanya kalau beraksi di wilayah kelompok lain Egianus selalu mengajak kelompok di wilayah itu. Jadi tidak main sendiri,” ungkapnya. (Asi/Aza/INI Network)

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close