Berita Lokal PekanbaruEkonomi

Perang Dagang AS-China Dimulai, Ekonomi Global Diliputi Kekhawatiran

Oleh: Suandri ansah

Metropekanbaru.com, JAKARTA– Raksasa industri di Asia mengkerut, pabrik-pabrik orientasi ekspor di Eropa ketar-ketir. Kecamuk perang dagang Amerika Serikat-China membuat iklim ekonomi global diliputi kabut khawatir.

Pada awal pekan ini, AS memberlakukan tarif baru sebesar 15% untuk barang-barang Cina, termasuk pakaian, peralatan, dan elektronik. Putaran tarif pembalasan China juga mulai berlaku, menargetkan impor kedelai, minyak mentah, dan farmasi AS.

Wall Street melaporkan, perang tarif ini juga membuat industri kecil di AS loyo pada Agustus kemarin. Pertumbuhan ekonominya terperosok kepada level terendah sejak November 2012.

Menurut survei bulanan kepada 670 perusahaan kecil yang dilakukan untuk The Wall Street Journal mencatat, persepsi responden akan kondisi ekonomi mendatang begitu pesimistis. Mereka memperikaran perekonomian akan memburuk selama 12 bulan ke depan naik menjadi 40%, dibandingkan dengan 29% pada bulan Juli dan 23% tahun lalu.

Jepang, mengatakan pada hari Senin bahwa pengeluaran modal oleh produsen negara itu turun 6,9% pada triwulan ketiga. Kondisi ini tercatat menjadi penurunan pertama dalam dua tahun.

Baca Juga  Zaira Wasim, Demi Islam Dia Tinggalkan Gemerlap Bollywood

Korea Selatan mengatakan hari Ahad bahwa ekspornya ke China turun 21,3% pada Agustus dibandingkan dengan bulan yang sama tahun sebelumnya, mendorong penurunan ekspor secara keseluruhan 13,6%.

Sebuah survei terhadap industri manufaktur menjelaskan lebih lanjut tentang seberapa besar konflik perdagangan mempengaruhi sektor industri AS. Beberapa laporan dalam beberapa hari terakhir menunjukkan bahwa dampaknya akan semakin dalam secara global.

Perang tarif memberikan tekanan pada biaya untuk perusahaan multinasional, memaksa mereka untuk mencari cara untuk mengimbanginya. Selain itu, ketidakpastian tentang prospek negosiasi antara AS dan China membuat para pengusaha sulit merencanakan.

Jepang dan Korea Selatan telah sangat terimbas di sektor teknologi tinggi dan komponen yang dikirim ke China, seperti suku cadang mobil Jepang dan semikonduktor Korea Selatan. Pabrik-pabrik China menggunakan produk-produk itu untuk memproduksi barang jadi, beberapa di antaranya diekspor ke AS.

Survei pembelian di Jepang, Taiwan, Korea Selatan, dan Indonesia juga menunjukkan penurunan dalam aktivitas manufaktur pada Agustus. Jerman, sebagai pengeskpor mesin dan peralatan menjadi negara di Eropa yang paling sedih atas perang dagang ini.

Baca Juga  Dinihari, Cak Imin Kembali Dipilih Pimpin PKB

“Perang perdagangan dan tarif tetap menjadi perhatian terbesar di antara produsen, dan meningkatnya ketegangan perang perdagangan global pada bulan Agustus mendorong penghindaran risiko lebih lanjut,” kata Chris Williamson, kepala ekonom bisnis di IHS Markit, yang melakukan survei. (*/Dry)

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close