InternasionalNews

Penindasan Muslim Uighur, Organisasi HAM Internasional Desak PBB Kecam Cina

Oleh: Eko P

Metropekanbaru.com, Jakarta – Beberapa organisasi HAM terkemuka internasional meminta Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres secara terbuka mengecam pemerintah Cina karena menahan dan menindas lebih dari satu juta Muslim Uighur.

Permintaan ini dikirimkan dalam surat bersama yang ditandatangani oleh Human Rights Watch, Amnesty International, Komisi Ahli Hukum Internasional, Federasi Internasional untuk Hak Asasi Manusia dan Konferensi Dunia Uighur yang juga turut mendesak sekjen PBB untuk menyerukan penutupan segera semua kamp penahanan di provinsi Xinjiang.

Menurut mereka, kecaman dari Guterres akan menjadi langkah penting untuk mengatasi salah satu permasalahan HAM yang paling mendesak di zaman ini.

Pekan lalu, Guterres meluncurkan program baru untuk melindungi situs-situs keagamaan di seluruh dunia. Program ini bertujuan memberikan rekomendasi konkret untuk membantu negara memastikan bahwa rumah ibadah dan jemaat mereka aman, dan nilai-nilai kasih sayang dan toleransi dipupuk secara global.

Ia kembali menahan diri untuk tidak mengecam Beijing pekan lalu ketika ditanyakan oleh VOA apakah memiliki pesan khusus bagi Cina mengenai penahanan dan penganiayaan terhadap Muslim Uighur.

“Pesan khusus saya untuk semua negara di dunia adalah kebebasan beragama perlu dihormati dalam segala situasi,” katanya, “dan itu dalam konteks kebebasan beragama dihormati sepenuhnya, semua situs keagamaan harus dilindungi.” katanya.

Selama ini pemerintah Cina berdalih warga minoritas Muslim Uighur ditempatkan dalam “pusat pelatihan kejuruan”. Namun, kesaksian seorang warga setempat yang diwawancarai BBC menyebutkan hal sebaliknya.

Baca Juga  Jamaah Haji Diimbau Tak Langsung Pulang Usai Salat di Masjidil Haram
Aibota Serik mengatakan ayahnya hilang di jaringan pusat penahanan Cina. Foto: BBC

Aibota Serik, seorang warga Cina keturunan Kazakhstan, menilai tempat yang diklaim Cina tersebut adalah penjara. Ayahnya, Kudaybergen Serik, seorang imam setempat di daerah Tarbagatay (Tacheng), Xinjiang barat pada Februari 2018, ditahan polisi Cina dan mengirimnya ke “pusat pelatihan kejuruan”. Sejak saat itu Aibota tidak lagi mendengar kabar tentang ayahnya.

“Saya tidak mengetahui alasan pemenjaraan ayah saya. Dia tidak melanggar hukum manapun di Cina, dia tidak diadili di pengadilan,” katanya, sambil memegang foto berukuran kecil sebelum kemudian menangis.

Badan PBB tentang diskriminasi ras (UN Committee on the Elimination of Racial Discrimination) mendapati sejumlah laporan yang dapat dipercaya tentang sekitar satu juta orang yang ditahan di kamp di Xinjiang. Hampir semuanya dari kelompok minoritas Muslim, seperti Uighur, Kazakh dan lainnya.

Terdapat lebih dari satu juta orang Kazakh yang hidup di Cina. Setelah Uni Soviet bubar, ribuan orang pindah ke Kazakhstan yang kaya minyak, terdorong oleh kebijakan negara itu yang menarik perhatian kelompok Kazakh.

Sekarang, orang-orang itu merasa telah putus hubungan dengan kerabat mereka yang tetap tinggal di Cina.

Nurbulat Tursunjan uulu, yang pindah ke daerah Almaty pada 2016, kepada BBC, mengatakan orang tuanya yang sudah lansia tidak bisa meninggalkan Cina dan datang ke Kazakhstan karena pemerintah mengambil paspor mereka.

Pengaju petisi lainnya, Bekmurat Nusupkan uulu, mengatakan kerabat di Cina takut berbicara di telepon atau di aplikasi pesan populer Cina, WeChat. Dan ketakutan mereka memang berdasar, katanya.

Baca Juga  KLHK Tetapkan 5 Korporasi di Kalimantan jadi Tersangka Karhutla

“Mertua laki-laki mengunjungi saya pada Februari 2018. Dari tempat saya, dia menelepon anak laki-lakinya di Cina, dia menanyakan keadaannya dan berbagai hal lain. Tidak lama kemudian anak laki-lakinya Baurzhan ditahan. Dia dikatakan telah menerima telepon dari Kazakhstan dua atau tiga kali dan kemudian dikirim ke kamp politik.”

Human Rights Watch menyatakan para tahanan dibui “tanpa melalui proses yang menjadi haknya – tidak didakwa ataupun diadili – tidak diberikan akses ke pengacara ataupun keluarga.”

“Saya menghabiskan tujuh hari di neraka di sana,” katanya. “Tangan saya diborgol, kaki saya diikat. Mereka menjebloskan saya ke lubang. Saya mengulurkan kedua tangan dan melihat ke atas. Saat itu, mereka menyiram saya. Saya berteriak.

“Saya tidak ingat apa yang terjadi kemudian. Saya tidak mengetahui mengapa saya berada di lubang tetapi saat itu musim dingin dan cuaca sangat dingin. Mereka mengatakan saya seorang pengkhianat, bahwa saya memiliki dua kewarganegaraan, saya berutang dan memiliki tanah.” lanjutnya.

Seminggu kemudian Koksybek dibawa ke tempat lain dimana dia belajar bahasa dan lagu Cina. Dia diberitahu akan diizinkan pergi jika telah mengenal 3.000 kata. (EP/Voa/BBC)

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close