OPINI

Narasi Kebencian Tanpa Adab

(Catatan Untuk Ahmad Basarah dan Adian Napitulu)

Oleh: H. Mohammad

Setelah Ahmad Basarah mengatakan bahwa mantan Presiden Soeharto adalah guru para koruptor, kali ini muncul surat terbuka yang ditulis oleh Adian Napitulu dengan judul cukup panjang: Menjawab Titiek Soeharto, Ancaman Tommy Soeharto Mempolisikan Ahmad Basarah dan Kecaman Prabowo Pada Jurnalis. Mengapa Ahmad dan Adian nampak begitu panik?

Indonesiainside.id, Jakarta – Apa yang dikemukakan oleh Ahmad dan Adian sasarannya adalah mantan Presiden Soeharto dan keluarganya. Apalagi anak-anak mantan presiden RI ke-2 itu saat ini sedang membesarkan sebuah partai politik yang akan ikut Pemilu Legislatif pada 17 April 2019 mendatang. Partai Berkarya yang dibidani oleh keluarga Cendana ini dipimpin oleh salah seorang putra Pak Harto, Hutomo Mandala Putra atau yang lebih dikenal dengan Tomy Soeharto.

Partai besutan keluarga Cendana itu hendak dikerdilkan, dengan berbagai cara. Yang paling empuk untuk disasar adalah Pak Harto yang pernah memimpin Indonesia selama 32 tahun. Bagi Ahmad dan Adian, apa yang dilakukan oleh Pak Harto selama 32 tahun memimpin Indonesia itu tidak ada yang baik. Semuanya jelek, dan karena itu, apa yang lahir dari keluarga Cendana, hendaknya dihadang dengan berbagai cara. Termasuk di dalamnya dengan menyebarkan propaganda dan berita-berita hoax, sebagaimana jamak kita dengar dan lihat.

Dalam menanggapi narasi kedua politisi dari PDI-P tersebut, ada dua hal yang mesti kita junjung tinggi jika kita hendak membangun negeri ini dengan peradaban adiluhung.

Pertama, adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mengingatkan, “Janganlah kalian mencela orang-orang yang sudah meninggal dunia, karena sesungguhnya mereka telah sampai kepada hasil amalan yang mereka lakukan tatkala di dunia.” (HR. Imam Bukhari)

Baca Juga  MK, Ilmu Fisika dan Prof Soegimin

Hadits tersebut memberi pelajaran kepada kita bahwa jika celaan itu ditujukan kepada mereka yang masih hidup, dan jika celaan tersebut benar, maka masih ada kemungkinan yang bersangkutan memperbaiki dirinya. Tapi, jika ditujukan kepada mereka yang sudah almarhum, mereka tidak bisa lagi memperbaikinya, karena hidupnya di dunia sudah selesai.

Dalam kasus Pak Harto, sepanjang hidupnya, belum pernah ada pengadilan yang memvonisnya sebagai koruptor. Jika pengadilan saja tidak pernah memvonis yang bersangkutan sebagai koruptor, maka tuduhan bahwa Pak Harto adalah guru koruptor adalah hoax.

Kedua, apa yang dituduhkan oleh Adian Napitulu dari mulai gedung LGBT, musuh mahasiswa sampai memperkaya diri dengan yayasan-yayasan sosialnya, tidak bisa dibenarkan, baik secara ilmiah maupun sosial.

Sebuah gedung berlantai 24 di jalan Medan Merdeka Barat, yang diberi julukan sebagai Monumen Gay (LGBT), dengan mengasumsikan bahwa gedung tersebut seperti alat kemain pria, sungguh keluar dari fikiran yang kotor. Hanya mereka yang punya fikiran ‘ngeres’ saja yang punya asumsi seperti itu.

Jika Pak Harto memusuhi mahasiswa, lalu apa gunanya Pak Harto membuat Yayasan Supersemar yang berhasil mengentas anak bangsa yang jumlahnya cukup fantastis: 2,7 juta!

Lalu, ada tuduhan, bahwa anak-anak Pak Harto memperkaya diri lewat yayasan-yayasan tersebut. Ini juga tuduhan yang ngawur bin bloon. Putra-putri Pak Harto punya perusahaan dan punya usaha yang nyata. Bukan perusahaan abal-abal pengumpul dana hibah dan sejenisnya.

Yayasan-yayasan yang didirikan oleh mendiang Pak Harto dan Ibu Tien, semuanya bergerak di bidang sosial dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas. Contohnya Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Untuk melihat aneka budaya Indonesia, cukup datang ke TMII. Juga ada masjid, rumah sakit, pemberdayaan para pelaku ekonomi menengah-kecil, dan seterusnya.

Baca Juga  Belajar ke Hajar dan Beruswah ke Hannah

Oleh karena itu, jika apa yang telah diperbuat oleh Pak Harto dan keluarga diputarbalikkan faktanya, tentu ada sesuatu yang sedang menimpa si pelakunya. Bangkitnya keluarga Cendana telah membuat sebagian pihak ketakutan yang berlebihan.

Jika tuduhan Ahmad Basarah adalah hoax, tudingan Adian Napitulu malah tidak berdasar, baik ilmiah maupun fakta di lapangan. Baik Ahmad maupun Adian, keduanya punya penyakit hati yang kronis. Dan hanya mereka yang punya penyakit hati yang kronis yang mampu mengeluarkan narasi hoax, tidak ilmiah, dan tidak sesuai dengan apa yang terjadi di lapangan.

Dan, mereka yang punya penyakit hati, tidak mampu melihat dan mendengar, bahwa sesuatu yang sedang bergerak untuk kemajuan bangsa justru menjadi ancaman buatnya.

Orang-orang seperti itu tentu tidak akan bisa berbuat adil. Padahal, agama apa pun di dunia ini, akan menjunjung tinggi asas keadilan. Pancasila juga mengedepankan asas keadilan. Hanya dengan berbuat adil kita mampu menjadi bangsa yang besar, bangsa yang berperadaban.

Sebaliknya, hanya orang-orang kerdil yang tidak bisa mengembangkan peradaban, apalagi peradaban adiluhung bangsa, salah satunya mikul dhuwur mendem jero (meninggikan kelebihan dan kebaikan serta menutupi kekurangan atau keburukan seseorang).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close