Berita Lokal PekanbaruNews

Nani Wartabone (2) : Peristiwa Patriotik di Januari 1942

Oleh : Djoko Su’ud Sukahar

Metropekanbaru.com, PEKANBARU-Nani Wartabone mendengar, Jepang telah menduduki Manado. ‘Saudara tua’ yang membawa semangat Asianisme itu berhasil mengusir Belanda dari wilayah yang dikuasainya. Belanda terpaksa mundur ke Poso.

Situasi kepanikan ‘kalah perang’  di Manado itu berimbas di Gorontalo. Orang-orang Belanda di kota ini ketakutan. Mereka bersiap pergi, tapi sebelum itu melakukan bumi hangus.

Nani Wartabone merasa, situasi yang mencekam itu adalah saat yang tepat untuk melakukan perlawanan. Maka ketika tanggal 22 Januari 1942 Belanda membakar kapal motor Kalio dan gudang kopra di pelabuhan, Nani pun mulai bergerak.

Nani Wartabone menyiapkan senjata dan mengumpulkan para pemuda yang ada. Jumat pagi, 23 Januari 1942, pasukan yang dipimpin langsung olehnya berangkat dari Suwawa menuju Gorontalo.

Sepanjang perjalanan, dengan teriakan membakar semangat, banyak rakyat bergabung. Pasukan yang semula hanya puluhan itu berubah menjadi massa rakyat berkekuatan besar.

Rakyat pun tanpa dikomando langsung menyerbu ke markas-markas Belanda. Mereka berteriak lantang, dan memekikkan kata merdeka.

Baca Juga  Israel dan Hamas Saling Serang, 27 Orang Tewas

Pukul 09.00 pagi, semua pejabat Belanda di Gorontalo berhasil ditangkap. Nani Wartabone memimpin rakyat untuk menurunkan bendera Belanda. Merah putih berkibar. Lagu Indonesia Raya bergema. Saat itulah Nani Wartabone berpidato.

Ini merupakan peristiwa proklamasi kemerdekaan Indonesia yang berkumandang jauh sebelum proklamasi yang sesungguhnya dibacakan Soekarno-Hatta di Pegangsaan Timur Jakarta tahun 1945.

Pada hari ini, 23 Januari 1942, kita bangsa Indonesia yang berada disini sudah merdeka, bebas, lepas dari penjajahan bangsa manapun juga. Bendera kita adalah Merah Putih, lagu kebangsaan kita adalah Indonesia Raya, pemerintahan Belanda telah diambil-alih oleh pemerintahan nasional

Habis membacakan proklamasi kemerdekaan itu, sore harinya, Nani Wartabone memimpin rapat pembentukan Pucuk Pimpinan Pemerintahan Gorontalo (PPPG) yang berfungsi sebagai Badan Perwakilan Rakyat (BPR) dan Nani dipilih sebagai ketuanya.

Empat hari kemudian, Nani Wartabone memobilisasi rakyat dalam sebuah rapat raksasa di Tanah Lapang Besar Gorontalo. Tujuannya adalah untuk mempertahankan kemerdekaan yang sudah diproklamirkan itu dengan risiko apapun. jss

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close