Berita Lokal PekanbaruOPINI

MK, Ilmu Fisika dan Prof Soegimin

Oleh: Agus Muhammad Maksum

Metropekanbaru.com, JAKARTA — Adalah sebuah kehormatan ketika saya bisa tampil sebagai saksi di Mahkamah Konstitusi (MK), berkaitan dengan dugaan Daftar Pemilih Tetap (DPT) Tidak Wajar mendapatkan Prof. Soegimin Soegimin W. W., Guru Besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), bidang Fisika di mana beliau adalah dosen fisika idoal saya saat masi kuliah di tahun 90 an.

Kepada beliau saya jelaskan ‘DPT tidak wajar’ dengan istilah ‘DPT siluman’ di mana pengecekan di lapangan seperti kasus yang terjadi di Kota Bogor dan Surabaya, sebagaimana diceritakan saksi Ibu Tri Susanti, ada di dalam daftar DPT tapi di lapangan tidak ada orangnya, bahkan sangat ekstrem yang terjadi di 9 TPS di Surabaya lebih dari 50 persen lebih ‘DPT nya siluman’ ada di dalam daftar, tapi tidak ada di dunia nyata. Itu hanya yang berhasil dicek saja dari yang tidak dilakukan pengecekan tentu saja kemungkinan ada puluhan juta karena laporan saya ke Komisi Pemilihan Umum (KPU), sebanyak 17,5 juta plus 18,8 juta ‘DPT Invalid’ di 5 Propinsi di Pulau Jawa.

Kembali kepada Prof Soegimin, beliau adalah salah satu orang yang memiliki makna mendalam dalam diri saya, karena perhatiannya yang besar pada saya.

Suatu hari, ketika beliau menyaksiakan sidang MK di TV, beliau berujar, “Saya sangat mengenal anak ini siapa dia?” Beliau akhirnya bertanya pada grup whatsapps di ITS, dan akhirnya mendapatkan jawaban. “Iya Prof itu kan muridnya Prof Soegimin.

“Oh ya .. tolong carikan nomor kontaknya, saya mau hubungi Mas Maksum itu, saya bangga,” katanya.

Singkat cerita, seorang senior di Fisika ITS berhasil mengontak saya (dari banyak pesan screenshoot di WA yang di kirim kepada saya) terkait usaha Prof Soegimin mencari-cari saya.

Namun rasanya tidak elok jika beliau yang menelpon. Bagaimanapun, Prof Soegimin adalah guru saya. Akhirnya, beliau mengundang saya ke rumahnya.

Meski seorang guru besar, Prof Soegimin adalah sosok yang hamble. Sungguh luar biasa, ketika saya datang, beliau sudah menunggu di depan pintu gerbang rumah.

Begitu saya bersalaman beliau langsung berkomentar, “Ohh Mas Agus Maksum yang ini rupanya, kalau ini saya sangat kenal sekali sejak mahasiswanya, pantas dia berani bersaksi di MK.”

Beliau seperti itu karena antara kami tidak melupakan peristiwa spesial, yang tidak pernah saya lupakan dalam hidup saya. Saat itu, bersama Prof Muhammad Nuh, DEA dan Prof Mahmud Zaki, Prof Soegimin pernah menyelamatkan saya dari Keputusan DO (dipecat) pada tahun 1996 saat menjadi mahasiswa ITS.

Pada saat saya menghadapi situasi sulit di mana saya dalam ancaman hukuman DO, karena pada saat saya menjadi Ketua Senat Mahasiswa (BEM) ITS pernah dilarang menyelenggarakan suatu diskusi politik oleh rektor ITS pada saat itu. Kala itu saya nekat menjebol ruang kaca yang disegel oleh pihak rektorat untuk tetap nekat melangsungkan acara diskusi politik. Diskusi politik tersebut mengundang Dr Sri Bintang Pamungkas, seorang tokoh oposisi yang dikenal vokal di kala itu.

Peristiwa ini menjadi sasaran konsumsi media massa, dan pihak rektorat merasa dilecehkan. Kabar yang saya terima pada waktu itu rapat pimpinan senat ITS merekomendasikan sanksi agar saya dipecat (DO).

Namun keputusan itu harus dibawa ke Rapat Senat Perguruan Tinggi ITS. Di saat kritis itulah, Prof Soegimin, Prof Muhammad Nuh (mantan jadi Menkom Info dan Mendiknas) bersama Prof Mahmud Zakie memanggil saya secara pribadi di ruangan Prof Zakie.

Prof Dr Nuh, sebagai juru bicara beliau bertiga waktu itu menyampaikan situasi di Rapim ITS, beliau meminta saya pada waktu itu satu hal: “Maksum tolong kamu hentikan segala macam komentar kamu di koran, cukup sudah komentar yang ada, mulai sekarang kamu colling down dan jangan berkomentar apa-apa lagi.”

Dr Nuh melanjutkan pesannya, “Kami (Prof Zakie & Prof Soegimin) akan mengusahakan sanksi yang di jatuhkan ke kamu seringan- ringannya.”

Pada akhirnya, sanksi yang saya terima setelah Rapat Senat Perguruan Tinggi ITS adalah sebuah surat berjudul “PERINGATAN KERAS”. (Jazakumullah Khairan Prof Dr Nuh, Prof Zakie dan Prof Soegimin atas amal shalihnya)
Nah, pada tanggal 22 Juni 2019, ketika mendapatkan kehormatan ke rumah pribadi beliau, merupakan sebuah kebanggaan tersendiri bagi saya.

Mengaitkan dengan peristiwa Pemilu dan sidang MK, Prof Soegimin menjelaskan bahwa ilmu fisika banyak gunanya untuk masalah-masalah social. Bahkan sejak dahulu, banyak masalah sosial yang menjadi teka-teki namun akhirnya bisa terjawab dengan Ilmu Fisika.

Beliau mencontohkan soal stres. Umumnya, orang stress itu karena banyak tekanan agar kuat menghadapi tekanan penampangnya harus kuat artinya dadanya harus lebar harus sabar.

Dalam kasus Pilpres, milsanya. Kenapa ilmuwan fisika berperan? Karena angka-angka yang muncul sebagai suara rakyat ini ada dugaan dimanipulasi dengan angka- angka yang terus berubah-ubah menuju suatu hasil tertentu dan menyimpang dari statistik normal. Makanya Ilmu Fisika Statistik berperan membaca pola entry data dan memodelkan-nya sehingga ketahuan pola penggelembungan dstnya. Demikian pembicaraan kami.

Secara khusus, beliau terkesan pada tiga muridnya –Dr Soegianto Soelistiono, Prof Dr Jaswar Koto dan saya sendiri– yang masih mau peduli pada masalah bangsa dan menerapkan Ilmu Fisika untuk ikut memberikan solusi pada persoalan bangsa tsb. Beliau terkesan karena tiga-tiganya berani dan mau maju.

Beliau tahu resiko seperti ini tidaklah ringan, dan insyaAllah bisa mempengaruhi nasib bangsa di masa depan.
Tak lula dalam pertemuan, beliau menasehati untuk tetap berhati-hati. Mengakhiri perpisahan dalam pertemuan itu, beliau membisikkan, “Saya bangga dulu memyembunyikan Mas Maksum ini di ruangan saya dan membela hingga tidak di DO,” ujar Prof Soegimin.

Beliau menyampaikan rasa bangganya dan tidak menyesal membela saya dari ancaman DO, sebagai penghormatan beliau terhadap sebuah idealisme.

Sebelum pulang beliau memberikan tiga buku karya beliau yang berkaitan dengan sains dan Al-Qur an. Salah satunya buku yang saya cari-cari selama ini, yakni buku yang menjelaskan tafsir Surat Al Ma’rij ayat 4 yang menjelaskan rumus E=Mc kwadrat (rumus relativitas Einstein yang terkenal itu).

Beliau berpesan untuk tetap sabar dan pertolongan Allah pasti untuk orang yang bersabar dan berjuang membela kebenaran. (cak/INI-Network)

Penulis adalah saksi BPN 02 di sidang Majelis Konstitusi (MK)

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close