Berita Lokal PekanbaruNews

Minyak Tanah Sulit Didapat, Tradisi Melayu Ini Terancam Punah

Metropekanbaru.com, KARIMUN-Ada budaya Melayu yang masih bertahan, yaitu tradisi Lampu Colok. Tradisi ini dilombakan saban tahun dalam Festival Lampu Colok. Namun tradisi ini terancam hilang.

Festival Lampu Colok setiap tahun diselenggarakan sebagai sebuah tradisi budaya Melayu dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri. Namun kini terancam hilang. Itu dampak dari penarikan minyak tanah bersubsidi sehingga sulit didapatkan di pasaran.

Salah satu wilayah yang mengadakannya untuk menyambut Idul Fitri 1440 H adalah Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau. Kepala Dinas Pariwisata Seni dan Budaya Karimun, Zamri, mengatakan masalah minyak tanah memang menjadi kendala, tahun ini saja peserta Festival Lampu Colok menurun dibandingkan tahun karena kesulitan minyak tanah.

“Peserta Festival Lampu Colok hanya sebanyak 30 gapura, 10 di Pulau Karimun Besar dan sisanya di Pulau Kundur, jauh berkurang dibandingkan tahun lalu,” usai peresmian Festival Lampu Colok di Lubuk Semut, Kecamatan Karimun, beberapa waktu lalu seperti dikutip dari Antara.

Zamri mengaku khawatir festival yang menjadi tradisi masyarakat itu tidak bisa digelar pada tahun depan menyusul diterapkannya program konversi minyak tanah ke gas elpiji yang diterapkan pada Desember 2018. Dan minyak tanah bersubsidi secara bertahap ditarik, dan pada Juni direncanakan akan ditarik secara menyeluruh dari Karimun.

Zamri mengatakan akan mencoba mencari solusi agar festival itu tetap bisa digelar pada tahun depan. Salah satunya berkoordinasi dengan Dinas Perdagangan, Koperasi, UKM dan ESDM untuk pengadaan minyak tanah.

“Kita akan tetap usahakan pada tahun depan, dan mudah-mudahan masih bisa dilaksanakan,” kata dia.

Festival Lampu Colok yang menggunakan lampu pelita terbuat dari kaleng bekas minuman dan berbahan bakar minyak tanah merupakan tradisi masyarakat yang masih bertahan di Kabupaten Karimun di tengah perkembangan zaman.

Tahun ini, kata dia, pihaknya menyediakan hadiah total Rp 74 juta untuk peserta yang masuk 10 besar.

“Lomba kita bagi dua yakni untuk Pulau Karimun Besar dan Pulau Kundur, masing-masing ada juara satunya,” katanya.

Sementara itu, Wakil Bupati Karimun Anwar Hasyim, usai membuka festival tersebut berharap tradisi masyarakat ini bisa bertahan dan terus digelar setiap tahun.

“Festival lampu colok tidak hanya untuk masyarakat setempat, tetapi juga bisa mendorong kunjungan wisatawan. Karena itu, saya berharap agar festival ini terus dievaluasi dan ditingkatkan,” katanya. (Ima/INI-Network)

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close