Berita Lokal PekanbaruPolitik

Milad GAM Ke-42, Bendera Bulan Bintang Berkibar

BANDA ACEH – Perayaan Milad GAM ke-42 di sejumlah lokasi di Aceh, diwarnai pengibaran bendera bulan bintang, Selasa (4/12). Bendera bulan bintang ini merupakan bendera Aceh yang telah disahkan oleh DPR Aceh pada 2013 lalu.

Pengibaran bendera bulan bintang tersebut terjadi salah satunya di wilayah Kuta Pasee Lhokseumawe. Bendera ini dikibarkan pada tiang di halaman Mesjid Gampong Meunasah Manyang, Kandang, Kecamatan Muara Dua, Lhokseumawe, sekira pukul 11.57 WIB, Selasa (4/12).

Diketahui, awalnya peringatan Milad GAM itu diiringi doa bersama, dan dilanjutkan dengan sambutan Wali Nanggroe Aceh, sambutan Panglima KPA Wilayah Kuta Pasee, diwakili oleh Tgk Suaidi Yahya, tausyiah dan menyantuni anak yatim. Pada podium acara dalam mesjid itu juga dipajang dua lembar bendera bulan bintang, disisi kiri podium dan kanan.

Acara ini dihadiri Panglima KPA Wilayah Kuta Pase, Ableh Kandang, Ketua DPRK Lhokseumawe, M. Yasir, Walikota Lhokseumawe, Suaidi Yahya, Wakil Walikota, Yusuf Muhammad, Sekdako Lhokseumawe, Bukhari, Ketua DPW Partai Aceh Lhokseumawe, Husaini Pom, pengurus KPA/Partai Aceh, kombatan GAM, anggota DPRK dari Fraksi Partai Aceh, caleg DPRK/DPRA, masyarakat dan undangan lainnya.

Kemudian usai acara, tiba-tiba lima pria berpakaian putih bercelana jeans hitam serta mengenakan selempang warna hitam, putih dan merah, berdiri di halaman mesjid. Sementara jamaah doa bersama juga langsung berdiri di sekitar halaman mesjid.

Ke lima pria itu mengibarkan bendera bulan bintang. Setelah penghormatan ala militer GAM, satu pria membawa bendera yang diserahkan kepada tiga pria yang telah berdiri di halaman mesjid.

Pria yang berdiri ditengah langsung mengambil bendera dan mereka jalan kedepan tiang bendera. Selanjutnya, dua pria disisi kiri dan kanan membuka tali tiang bendera. Lalu bendera diikat pada tali tersebut dan satu orang yang membawa bendera langsung membentangkan bendera bulan bintang. Kemudian, dikumandangkan azan hingga bendera diderek naik keatas tiang.

Usai pengibaran bendera, lima pria tersebut langsung membubarkan diri layaknya sebuah upacara bendera. Namun, saat aparat keamanan TNI/Polri datang kelokasi, bendera yang sempat berkibar beberapa menit langsung diturunkan kembali.

Kapolres Lhokseumawe, AKBP Ari Lasta Irawan, mengatakan bendera bulan bintang itu sempat berkibar sekitar dua menit di kawasan Kandang. “Langsung kita himbau kepada mereka, agar bendera itu diturunkan. Akhirnya, mereka pun kembali menurunkan bendera bulan bintang,”ucap Kapolres.

Sebut dia, tindak lanjut yang akan dilakukan terhadap pengibaran bendera bulan bintang itu, pihaknya akan kembali melakukan komunikasi dengan petinggi KPA. Dalam wilayah Polres Lhokseumawe, hanya satu titik yang ditemukan pengibaran bendera bulan bintang, yakni di kawasan Kandang.

“Secara umum, kita sudah monitor ada 8 titik kegiatan peringatan Milad GAM dalam bentuk zikir dan doa bersama,”ungkapnya.

Sementara Ketua DPRK Lhokseumawe, M. Yasir, yang berada dilokasi pengibaran bendera bulan bintang mengatakan bendera bulan bintang itu simbol perjuangan Aceh.

“Ini salah satu harkat dan martabat Aceh yang kami perjuangkan dari tahun 1976 di Gunung Halimun dari masa Wali Negara Tgk Muhammad Hasan Ditiro (almarhum-red) sampai sekarang kami tetap memperjuangkan harkat dan martabat Aceh itu,”tegas M. Yasir, juga Ketua Forum Fraksi PA Ban Sigom Aceh.

Sebenarnya lanjutnya, bila dilihat dari segi undang-undang, DPRA sudah mengesahkan qanun lambang dan bendera Aceh. Tapi Pemerintah Republik Indonesia tetap mempertahankan tidak mengesahkan bendera Aceh.

“Pengibaran bendera itu hanya seremonia saja kita buat, supaya semua yang ada di Aceh bisa memahami bagaimana masyarakat Aceh begitu antusias terhadap bendera dan lambang Aceh,”ungkapnya. Kedepan, ia berharap Pemerintah Indonesia benar-benar menghormati apa saja yang tertuang dalam MoU Helsinki.

M. Yasir juga mengajak semua pihak untuk menjujungi tinggi Milad GAM ke-42. “Semoga dalam momentum milad GAM ini, harus ada perhatian dari pihak pemerintah, agar jangan pernah mempersoalkan tentang kewenangan Aceh,”tegasnya. Apalagi, lanjut dia, perjanjian damai atau MoU Helsinki terjadi antara dua pihak yakni Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan RI. adi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close