Berita Lokal PekanbaruInternasional

Mengenal Tradisi  Cheng Beng (1) : Sembahyang di Kuburan Leluhur

Oleh : Djoko Su’ud Sukahar

Ini tradisi Cheng Beng. Sembahyang kubur di makam leluhur. Dari berbagai penjuru dunia mereka harus pulang kampung. Itu yang membuat dua kabupaten di Provinsi Riau, sontak dipenuhi warga pendatang. Apa itu Cheng Beng?

Metropekanbaru.com, PEKANBARU-Bagi masyarakat Tionghoa, Cheng Beng menjadi agenda rutin yang harus dijalankan. Untuk itu, beberapa hari mendekati bulan April,  mereka akan berbondong-bondong mengunjungi kuburan sanak dan keluarganya. Ini  sudah menjadi tradisi dan budaya bagi etnis Cina.

Untuk dunia penerbangan, datangnya Cheng Beng menjadi berkah tersendiri. Pasalnya akan terjadi lonjakan penumpang, karena warga etnis Tionghoa dunia akan pulang kampung untuk sembahyang dan mengunjungi kuburan warga dan sanak familinya di kota asalnya.

Di bulan Cheng Beng, kuburan Tionghoa akan dibanjiri sanak saudara untuk sekadar sembahyang maupun melaksanakan fengshui kuburan.

Jumlah penumpang pesawat udara semua rute mengalami lonjakan cukup tinggi. Peningkatan penumpang itu biasanya diikuti dengan naiknya harga tiket pesawat. Dan ini mulai dirasakan sepekan menjelang Cheng Beng.

“Sudah menjadi tradisi jika pada Cheng Beng komunitas Tionghoa yang berada di luar Kalimantan Barat pulang untuk melaksanakan ziarah kubur leluhur dan sanak famili,” kata Nur Pramukani,seorang agen penjualan tiket di Jakarta. Ritual itu sendiri berlangsung selama 15 hari dimulai sejak pertengahan Maret.

Di bulan Cheng Beng, perkuburan Tionghoa akan dibanjiri sanak saudara untuk sekadar sembahyang maupun melaksanakan fengshui kuburan.

Ceng Beng artinya sembahyang kubur, dalam bahasa Mandarin Qing Ming, sedangkan bahasa Hokkiannya Cheng Beng. Cheng berarti bersih dan Beng berarti terang,” ujar Suhu Acai yang dikenal sebagai ahli fengshui kuburan itu.

Menurut suhu, ibarat warga muslim menjelang bulan Ramadhan ziarah ke makam keluarga, begitu juga warga Tionghoa menggelar prosesi sembahyang kubur. Mulai dari membersihkan makam, mencat kembali makam berwarna-warni.

“Setelah itu baru membakar hio dan menyajikan kertas sembahyang, dan lilin merah di altar pemakaman,”jelas pria berambut gondrong ini.

Kertas yang diletakkan di altar kuburan juga tidak bisa sembarangan. Menurut Suhu, tradisi ini memakai kertas sembahyang berwarna perak, kertas berwarna putih, kertas dan berwarna kuning.

Meja  altar sesajian di kuburan juga dilengkapi kue jajanan, ayam rebus utuh satu ekor, apel, jeruk, cangkir teh yang kemudian diisi teh. Setelh itu dibakar beberapa hio yang diapit dengan kedua belah tangan, kemudian hio itu dibakar ditancapkan di altar.

“Acara meletakkan kertas perak disebut Gin Chua sedangkan upacara peletakan kertas berwarna putih dan kuning ke Bongpai atau batu nisan disebut upacara Tek Chua,”tutur Suhu.

Sembahyang kubur bisa dimulai sepuluh hari sebelum dan sesudah hari pelaksanaannya, dan puncak sembahyang Cheng Beng dilaksanakan pada tanggal 9 bulan ke-3 Imlek tahun China. (bersambung/irsa/jss)

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close