Berita Lokal PekanbaruProfil

Mengenal Sejarawan dan Profesor Kedua di Riau, Prof. Suwardi MS

PEKANBARU – Majunya sebuah peradaban terlihat dari aktivitas intelektualnya. Seperti halnya di Provinsi Riau maka untuk mencari orang inteleknya salah satu jalannya adalah ke Universitas Riau.
Tentu jika ingin mencari siapa yang tinggi intelektualnya maka orangnya adalah profesornya. Di Universitas Riau tercatat profesor pertama adalah almarhum Prof. Dr. Mukhtar Lufti.
Setelah itu ada nama Prof. Suwardi MS yang meskipun sudah pensiun, sampai saat ini masih terus berkarya. Di umur yang sudah mencapai 79 tahun, beliau tetap mengabdi pada dunia intelektual.
Buktinya baru pada 2018 ini, dia masih menerbitkan buku 2 jilid berjudul “Memperkasakan Budaya Melayu sebagai Kearifan Lokal Berdasarkan Sejarah Riau dan Indonesia”.
Dia merupakan pengajar di Fakultas Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Riau, tepatnya di program studi sejarah. Dia mendapat gelar profesor pada 18 Juni 1987 dimana surat keputusannya langsung ditandatangani oleh Presiden Indonesia saat itu, Soeharto.
“Kami Presiden Suharto yang langsung meneken SK penerbitan profesor. Saya jemput ke sekretariat negara karena diminta dijemput langsung. Lalu dikukuhkan Rektor Universitas Riau dan dihadiri oleh 8 guru besar seluruh Indonesia. Di Unri saya yang kedua,” ujarnya kepada metropekanbaru.com, Minggu 9 Desember 2018.
Dia yang sudah pensiun 2009 ini sudah menerbitkan berbagai judul buku. Diantaranya yang paling jadi pedoman yakni Sejarah Riau diterbitkan tahun 1977. Ada juga Sejarah Perjuangan Rakyat Riau tahun 2011, Sejarah Lokal Riau terbit 2012, Diaspora Melayu dari Riau ke Semenanjung tahun 2014, bahkan juga diminta Universitas Sains Malaysia menerbitkan buku Perantauan dari Sumatera ke Semanajung terbit 2016.
Lahir di Sentajo, Kuantan Singingi 23 juli 1939 kepintarannya sudah terlihat mulai Sekolah Rakyat yang seharusnya 6 tahun diselesaikannya 5 tahun. Itu karena dianggap bisa ikuti ujian nasional sehingga kelas 5 sudah lulus.
Lalu dia masuk Sekolah Guru B yang seharusnya empat tahun selesai olehnya tiga tahun. Itu karena nilai rata-rata tinggi dan diprioritaskan masuk Sekolah Guru A di Tanjung Pinang. Setelah itu selesai sebenarnya harus mengajar, tapi lagi-lagi karena nilai sebenarnya harus kerja tapi karena nilai tinggi diberi kesempatan belajar melanjutkan di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Bandung atau UPI Bandung sekarang.
Tahun 1967 dia mulai mengajar di IKIP Jakarta Cabang Pekanbaru yang menjadi FKIP UNRI sekarang. Dalam karir studinya dia juga pernah menjalani kuliah di Australia.bayu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close