NasionalNews

Maulid Nabi, Meneladani Akhlak Rasulullah

Oleh: Herry M Joesoef

Metropekanbaru.com, Jakarta – Bagi umat Islam, bulan Rabiul Awal adalah salah satu bulan yang istimewa.
Karena di dalamnya, Nabi Muhammad Sahallallahu ‘Alaihi wa Sallam lahir pada 12 Rabiul Awal yang bertepatan dengan Sabtu 9 November 2019. Meski tidak ada perintah khusus dalam memperingati Maulid Sang nabi, tetapi berbagai komunitas umat Islam tidak mau tertinggal dengan momentum tersebut, yang umumnya berlangsung hari ini dan esok, Ahad.

Pondok Pesantren Attaqwa, Ujung Harapan, Desa Bahagia, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, adalah salah satu yang memperingati Maulid secara istimewa. Pondok Pesantren besutan Kiai Haji Noer Ali, seorang Pahlawan Nasional tersebut, menjadikan reuni setiap kali memperingati hari lahir Sang Nabi.

Siang tadi, ribuan santri dan alumni At-Taqwa kumpul di pondok, untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Mereka datang dari penjuru negeri, dan sudah hadir sejak kemarin sore. Kali ini, Gubernur DKI Jakarta, Anies R Baswedan, ikut hadir. Kehadiran Anies punya sejarah panjang. Kakek Anies, Abdur Rahman Baswedan, adalah teman seperjuangan Kiai Noer Ali. Mereka sama-sama pejuang kemerdekaan, dan sama-sama mendapat gelar Pahlawan Nasional.

Kehadiran Anies mempererat jalinan silaturahim para putra dan cucu para pejuang ini.

Bagi para santri dan alumni Attaqwa, Maulid adalah perjalanan mudik, kembali ke pondok. ”Kembali ke pondok adalah perjanalan menemukan jatidiri yang bersahaja, penuh kebersamaan,” kata Darso Arief Bakuama, seorang alumni. “Kami mudik untuk kembali ke khittah perjuangan, kembali ke idealisme santri, yang Benar- Pintar Terampil-Berakhlak,” papar Darso yang asli dari Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, itu.

Akhlak, itulah misi diutusnya Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam membimbing umat manusia. Dalam sirah, ketika usia Nabi 35 tahun, orang-orang Qurays di Makkah sepakat untuk membangu kembali Ka’bah yang mengalami kerusakan. Disepakati, setiap kabilah dari Quraisy medandapatkan bagian untuk membangun Ka’bah.

Setelah bangunan sudah mencapai setinggi Hajar Aswad, persoalan mulai timbul. Masing-masing Kabilah merasa berhak meletakkan kembali Hajar Aswad ke tempatnya semula. Bagi mereka, ini adalah kehormatan bagi kabilahnya. Bersitegang, bahkan hampir terjadi perang antar kabilah. Pembangunan terhanti selama lima hari.

Para tokoh Quraisy lemudian berkumpul dan bermusyawarah di dalam masjid. Di antara mereka, ada yang paling tua, Abu Ummayah bin Al-Mugirah, namanya. Ia angkat bicara, “Wahai orang-orang Quraisy, jadikanlah penyelesaian sengeketa kalian ini dengan menunjuk penengah di antara kalian, yaitu orang yang pertama masuk ke dalam masjid.” Semua kabilah setuju.

Ternyata, yang pertama kali masuk ke dalam masjid adalah Muhammad. Mereka pun berkomentar, “Ini adalah seorang yang terpercaya (al-Amin), dia adalah Muhammad.”

Setelah delegasi kabilah datang ke Muhammad, ia lalu berkata, “Ambilkan aku kain.” Setelah kain diambilkan,kain diletakkan diatas tanah, kemudian beliau meletakkan Hajar Aswad di atas kain tersebut. Lalu masing-masing perwakilan kabilah memegang ujung kain tersebut. Setelah diangkat dan sampai di tempat Hajar Aswad, beliau mengambil batu hitam tersebut dan dengan tangannya beliau meletakkannya di tempat asal Hajar Aswad. Masalah selesai, semua gembira, dan semua kembali bekerja untuk merenovasi Ka’bah.

Pelajaran yang bisa kita petik adalah, sebelum kenabian, orang-orang telah menjuluki Muhammad sebagai
al-Amin (terpercaya). Inilah sebenarnya modal awal seorang calon pemimpin. Apa pun skala kepemimpinan tersebut. Carilah orang-orang yang amanah dan terpercaya. Dan itu adalah salah satu kriteria penting dalam memilih calon pemimpin. Itulah akhlak Sang Nabi yang diutus kedunia untukmenyempurnakan akhlak umat manusia. (HMJ)

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close