Berita Lokal PekanbaruKhazanah

Makrifat Burung Surga (24) : Rokok Wangi Itu Tanda Cinta

Oleh : Djoko Su’ud Sukahar

Sambil tersenyum penuh arti, Sang Pangeran menyatakan, ia membutuhkan bantuan si janda. Ia ingin agar si janda mau mencarikan obat rindu. Sambil bilang begitu, Sang Pangeran pun bertanya tentang wanita ayu yang tinggal di sebelah rumahnya.

Metropekanbaru.com, PEKANBARU-Mendengar itu, dengan lirih janda ini bergumam. “Oh Pangeran, wanita ayu itu adalah isteri Ki Nangim yang belum lama menikah. Ki Nangim sekarang sedang pergi berdagang ke luar negeri.”

Mendengar penjelasan si janda itu Sang Pangeran merasa mendapat kesempatan. Ia harus memanfaatkan. Apalagi nampaknya si janda juga mau membantu. Si Pangeran pun lalu merogoh sakunya, dan memberi hadiah si janda uang tiga dinar.

Laki-laki muda ini juga menyatakan, jika si janda bisa menyembuhkan sakit rindunya dengan membuat dirinya bertemu wanita ayu di sebelah rumahnya, ia berjanji akan memberi hadiah lagi yang lebih banyak.

Sang Pangeran menunggu di rumah sang janda ini. Sedang janda ini keluar rumah untuk menemui si Zaenab. Saat keluar rumah, janda ini merasa seperti menjadi mata-mata kompeni yang pernah dijalaninya di Aceh dulu.

Ia menyelinap ke rumah panggung tempat si Zaenab tinggal. Zaenab seperti sudah menduga apa maksud si janda, menyambut wanita itu dengan sikap manis. Terbayanglah di mata si janda hadiah besar yang bakal ia terima dari Sang Pangeran.

Memasuki ruang tamu rumah Ki Nangim, terbayang di mata si janda tampang asisten landrat atau Jenderal besar di Betawi, aparat kompeni yang akan menjatuhkan vonis bagi si janda jika nanti si ayu Zaenab keliru paham.

Namun permintaan si janda agar dia ke rumahnya sekarang menemui tamunya, Zaenab, yang sebenarnya telah menunggu, berkata penuh arti. “Bibi, saat ini aku belum bisa memenuhi undangan bibi. Bagaimana jika nanti saja, sekitar jam delapan malam.”

Jawaban itu menyenangkan si janda. Apalagi si Zaenab juga menunjukkan keseriusannya, dengan memberi sebungkus rokok wangi untuk diberikan pada Sang Pangeran.

Si janda segera pulang ke rumah. Di depan pintu disambut Sang Pangeran. Si janda lalu memberikan rokok dari Zaenab kepada Sang Pangeran yang menerimanya dengan segala lamunan seorang pria yang sedang kasmaran.

Sesudah menyampaikan bingkisan dari Zaenab yang diterima pangeran dengan penuh semangat, si janda berpesan agar pangeran tidak lupa datang lagi nanti jam delapan malam. (bersambung/jss)

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close