Berita Lokal PekanbaruKhazanah

Makrifat Burung Surga (11) : Ibadah Kita Dibeli Allah Maha Suci

Oleh : Djoko Su’ud sukahar

Ki Nangim masuk ke dalam rumah. Ia memperhatikan burung Bayan itu dengan seksama. Melihat mata burung itu yang bercahaya, serta kepalanya yang mengangguk-angguk, menyiratkan optimisme, Ki Nangim terbangkitkan hatinya untuk kembali berbisnis beras.

Metropekanbaru.com, PEKANBARU-Sebelum berangkat ke pasar, Ki Nangim membawa burung Bayan itu ke dalam rumah. Ia memasukkannya ke sangkar yang bagus. Sangkar itu kembar dengan sangkar burung Menco yang sudah dipelihara sebelumnya.

Setelah menempatkan burung Bayan itu dengan baik, Ki Nangim lalu pergi berbelanja beras. Ini merupakan mata dagangan utamanya. Beras itu nantinya akan dijual lagi pada orang-orang dari Mangkuda Halabari. Sebuah negeri jauh, yang selama ini menjadi pelanggan tetapnya.

Ki Nangim sangat yakin dengan ucapan burung Bayan itu, bahwa ia akan dapat untung besar. Namun demikian, dalam hatinya masih diliputi rasa ragu. Timbul pertanyaan, adakah benar ucapan Bayan Budiman, bahwa ia akan mendapatkan keuntungan besar dalam bisnisnya nanti?

Ternyata, apa yang diucapkan burung Bayan Budiman itu benar. Hanya berselang tujuh hari setelah burung itu dipelihara, datanglah orang Mangkuda dari negeri seberang. Ia mampir ke rumah Ki Nangim, dan membeli beras dagangan laki-laki ini dalam jumlah besar. Dari penjualan itu juragan Nangim memperoleh untung besar.

Selain membeli beras, pembeli dari negeri seberang itu juga memesan gula, garam, dan beberapa mata dagangan yang lain. Hanya dalam tempo cepat, segala dagangannya terjual habis. Ia pun menjadi lebih kaya dari sebelumnya. Itu lantaran mengikuti saran burung Bayan Budiman.

Begitulah mestinya orang hidup di dunia ini. Burung Bayan Budiman adalah suatu permisalan dari kitab yang berisi ilmu, yang tak pernah habis diambil siapa saja yang membacanya. Sedangkan juragan Nangim ibarat orang yang mengaji. Ia mencari ilmu, yang untungnya ialah derajat di dunia dan di hari akhir nanti.

Jika dikaji, hidup manusia itu ibarat modal. Dan dagangan yang dijual ibarat ibadah yang dilakukan manusia. Sedang yang membeli dagangan ibadah itu adalah Tuhan Allah Yang Maha Suci. (bersambung/jss)

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close