InternasionalNasionalNews

KH Maimoen Zubair: Sosok Ulama Kharismatik

Oleh: Nurcholis 

Metropekanbaru.com, Jakarta – Kiai Haji Maimoen Zubair dilahirkan di Rembang, di desa Karang Mangu Sarang hari Kamis Legi bulan Sya’ban tahun 1347 H bertepatan dengan 28 Oktober 1928.

Ayah Kiai Maimoen, Kiai Zubair, adalah murid pilihan dari Syaikh Sa’id Al-Yamani serta Syaikh Hasan Al-Yamani Al- Makky.

Mbah Maimoen dikenal sebagai seorang ulama sekaligus politikus, yang saat ini adalah Pimpinan Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang merupakan seorang alim, faqih (ahli fikih) sekaligus muharrik (penggerak).

Dikenal sebagai rujukan ulama NU, dalam bidang fiqh, Kiai Maimoen menguasai secara mendalam ilmu fikih dan ushul fikih. Salah satu teman dekatnya adalah Kiai Sahal Mahfudh, mantan ketua umum MUI Pusat tahun 2000 hingga 2014, yang juga sama-sama santri kelana di pesantren-pesantren Jawa, sekaligus mendalami ilmu di tanah Hijaz (Arab Saudi).

Sekretaris Jenderal PBNU Helmy Faishal Zaini Helmy menyebut Mustasyar PBNU sebagai sosok yang gigih untuk memperjuangkan nilai-nilai keislaman dan ke-Indonesia-an.

“KH. Maimoen Zubair merupakan sosok yang gigih untuk memperjuangkan nilai-nilai keislaman dan ke-Indonesia-an. Salah satu upaya penting yang dilakukan oleh KH. Maimoen Zubair adalah menegaskan bahwa kemerdekaan bangsa Indonesia merupakan sebuah anugerah yang diberikan oleh Allah SWT atas perjuangan yang penuh dengan kesungguhan dan menghapuskan penjajahan, “ demikian kata Helmy dalam rilisnya.

Di kalangan komunitas Nahdhatul Ulama (NU), Kiai Maimoen bukan nama asing. Selain sebagai ulama sepuh, ia sering menjadi rujukan dan referensi ketika terjadi masalah besar atau isu nasional yang sedang menjadi bahasan banyak orang. Tak heran memang jika banyak orang yang selalu menunggu nasehatnya untuk mendinginkan suasana bahkan tak sedikit mendatanginya untuk meminta dukungan.

Bagaimanapun, selain disegani di NU, Ketua Majelis Syariah Partai Persatuan Pembangunan itu memilki pengaruh dalam dunia politik. Begitu kuatnya pengaruh Mbah Moen, banyak politisi dan tokoh-tokoh mendatanginya untuk meminta restu.

Bahkan ketika Pilpres 2019, dua calon pasangan presiden –Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dan Joko Widodo-Ma’ruf Amin—merasa dekat. Kedekatan juga dirasakan para pendukungnya.

Indonesia dan Politik
KH Maimoen Zubair memperoleh pendidikan pertama dari kedua orangtuanya. Ia mengaji langsung dari ayahnya, KH Zubair Dahlan. KH Zubair Dahlan, merupakan salah seorang ulama terkemuka dan mengarang beberapa kitab, seperti Kitab Manasik Haji, Nadlom Risalah As Samarqondiyah yang diberi nama Al-Qolaid Fi Tahqiqi Ma’na Isti’aroh, dan beberapa Nadloman mengenai Rumus-Rumus Fuqoha’.

Setelah berlajar dari ayahandanya, ia meneruskan untuk mengasah ilmunya di Pondok Lirboyo, Jawa Timur tahun 1945 di bawah pengasuhan KH Abdul Karim, KH Mahrus Ali dan KH Marzuki Dahlan.

Di usia 21 tahun, ia melanjutkan pencarian ilmu menuju Makkah al Mukarromah, ditemani oleh kakeknya sendiri yaitu KH. Ahmad bin Syuaib.

Di Makkah, KH. Maimoen Zubair banyak mengaji kepada ulama-ulama besar seperti Sayyid Alawi bin Abbas al-Maliki, Syekh al-Imam Hasan al-Masysyath, Sayyid Amin al-Quthbi, Syekh Yasin Isa al-Fadani, Syekh Abdul Qodir al-Mandaly dan ulama-ulama lainnya.

Meski demikian, Kiai Maimoen tetap meluangkan waktu untuk mengaji ke beberapa ulama di Jawa, di antaranya Kiai Baidhowi, Kiai Ma’shum Lasem, Kiai Bisri Musthofa (Rembang), Kiai Wahab Chasbullah, Kiai Muslih Mranggen (Demak), Kiai Abdullah Abbas Buntet (Cirebon), Syekh Abul Fadhol Senori (Tuban), dan beberapa kiai lain. Kiai Maimoen juga menulis kitab-kitab yang menjadi rujukan santri. Di antaranya, kitab berjudul al-Ulama al-Mujaddidun.
Selepas kembali dari tanah Hijaz dan mengaji dengan beberapa kiai, Kiai Maimoen kemudian mengabdikan diri untuk mengajar di Sarang, di tanah kelahirannya. Pada 1965, Kiai Maimoen kemudian istiqomah mengembangkan Pesantren al-Anwar Sarang, yang kelak menjadi rujukan santri untuk belajar kitab kuning dan mempelajari turats.

Sebagai sosok penggerak (muharrik), selama hidupnya, Kiai Maimoen tidak hanyak duduk mengajar. Karenanya meski memegang pondok pesantren, ia tidak meninggalkan keterlibatan dalam dunia politik. Baginya, berpolitik akan bisa mendialogkan Islam dan kebangsaan.
Jejaknya dalam dunia politik tidak diragukan. Pernah menjadi anggota DPRD Rembang selama 7 tahun, pernah menjadi anggota MPR RI utusan Jawa Tengah.

Karena kedalaman ilmu dan kharismanya, Kiai Maimoen Zubair diangkat sebagai Ketua Dewan Syuro Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Ia tetap setia ke Partai Persatuan Pembangunan (PPP) meski tahun 1998 NU mendirikan PKB.

Putra Putri
Mbah Moen, demikian sapaan akrab KH Maimoen Zubair memiliki 10 anak; terdiri dari 8 laki-laki dan 2 perempuan. Mereka yaitu KH Abdullah Ubab, KH Gus Najih, KH Majid Kamil, Gus Abdul Ghofur, Gus Abdur Rouf, Gus Muhammad Wafi, Gus Yasin, Gus Idror, Sobihah dan Rodhiyah.

Putra-putra beliau memiki banyak profesi. Ada yang menjadi kiai, ustaz, politikus. Bahkan ada yang berbeda pilihan.

Dalam Pilkada 2018, Taj Yasin atau biasa disapa Gus Yasin yang merupakan anak ketujuh Maimun berpasangan dengan Ganjar Pranowo dan sukses memenangkan Jawa Tengah.

Sementara Muhammad Najid atau biasa disapa Gus Najih lebih memilih mendukung Prabowo. Najih merupakan kakak Taj Yasin. Dukungan Najih terekam saat ia datang ke acara Musyawarah Ulama pendukung Prabowo – Sandiaga yang digelar di Hotel Grand Cempaka, Cempaka Putih, Jakarta Pusat pada Ahad, 16 September 2019. (ck)

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close