Berita Lokal PekanbaruNasionalNews

Kesaksian Guru SD Inpres Pekanbaru di Era Pak Harto

Oleh: Bayu Derriansyah

Metropekanbaru.com, PEKANBARU – Kebijakan Sekolah Dasar (SD) Inpres yang dibentuk oleh Pemerintah Indonesia di era Presiden Soeharto, tepatnya pada tahun 1973 hingga 1978 menjadi sorotan dunia setelah tiga orang peneliti asal Amerika Serikat mendapatkan perhargaan Ekonomi Nobel.

Melalui penelitian tentang SD Inpres di Indonesia, ketiga peneliti tersebut dinilai melahirkan suatu pendekatan baru dalam hal pendidikan dan kesehatan untuk memerangi kemiskinan yang melanda dunia khususnya negara-negara dunia ketiga.

Menurut kesaksian H Zurkarnaini SPd MM, yang merupakan salah satu guru yang menjadi pengajar di salah satu SD Inpres di Kota Pekanbaru pada tahun 1984 mengatakan, menurutnya kebijakan yang diambil oleh Presiden Soeharto kala itu sangat sesuai dengan yang dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia.

“Fasilitas sekolah kurang dan jumlah sekolah juga kurang, sehingga banyak anak-anak putus sekolah. Dan pada saat itu lah, Pak Harto mengangkat guru yang jumlahnya sampai puluhan ribu orang. Menjadi PNS, terutama untuk tenaga pengajar,” tutur Zurkarnaini saat ditemui Metropekanbaru.com, Senin (21/10/2019).

Kala itu, ada ribuan orang yang telah menyelesaikan pendidikan SMA dengan jurusan pendidikan diangkat sebagai guru di ribuan sekolah Inpres yang dibangun oleh Soeharto di seluruh penjuru Nusantara.

“Jadi waktu itu pengangkatan guru secara massal. Ada SPG untuk guru kelas, SGO untuk guru olahraga dan PGA untuk guru agama. Ini merupakan tamatan yang sederajat dengan SMA, tetapi memang sekolahnya mengarah pada tenaga pendidik, sehingga setelah lulus SPG, PGA atau SGO sudah bisa langsung mengajar di sekolah Inpres,” ungkapnya.

“Karena penduduk usia sekolah SD waktu itu sangat banyak, tetapi sekolah terbatas dan jauh, maka Pak Harto mengambil kebijakan membangun banyak sekolah. Lalu mengangkat guru secara massal,” imbuhnya.

Namun, ternyata kebijakan yang diambil oleh Soeharto dengan pengangkatan guru secara massal kala itu belum menutupi kebutuhan guru di ribuan sekolah Inpres yang didirikan. Sehingga pemerintah memutuskan untuk mengangkat lulusan SMA yang tidak berasal dari jurusan pendidikan sebagai guru, melalui program pelatihan.

“Waktu itu masih kurang juga guru, sehingga diambil lah kebijakan, untuk lulusan SMA umum. Jadi dari lulusan SMA itu, dididik untuk menjadi guru kelas selama 6 bulan pelatihan. Itu dulu istilahnya paket. Jadi setelah menjalani pelatihan, mereka baru diangkat menjadi guru,” katanya.

Zulkarnaini menuturkan, bahwa program pembangunan SD Inpres yang didirikan oleh Presiden Soeharto sangat membantu bagi masyarakat. Selain bermanfaat untuk pendidikan anak bangsa kala itu, SD Inpres juga memberi pengaruh yang baik pada pertumbuhan ekonomi Indonesia.

“Manfaatnya memang waktu itu untuk mengurangi angka pengangguran. Karena otomatis waktu itu begitu tamat sekolah langsung dapat pekerjaan, yaitu menjadi guru. Dan juga kepada anak-anak begitu juga, mereka dapat pendidikan dan bisa bersekolah,” tutupnya. (Bayu)

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close