NasionalNews

Kemarau, 61 Waduk di Mojokerto Terancam Kekeringan

Oleh: Rizki Daniarto

Metropekanbaru.com, Surabaya – 61 waduk di 11 kecamatan di Kabupaten Mojokerto diperkirakan mengalami kekeringan pada Oktober nanti. Saat ini, sejumlah waduk telah kering sejak dua bulan terakhir.

Kemarau juga menyebabkan 157 hektare lahan Perhutani Pasuruan dan Taman Hutan Rakyat (Tahura) Raden Soerjo terbakar. Sedangkan puncak kemarau diprediksi terjadi pada Oktober 2019.

Kekeringan dirasakan salah satu petani jagung yang berada di sekitar Waduk Talunblandong, Kecamatan Dawarblandong.

“Tahun 2019 ini kemaraunya panjang sekali. Waduk juga sudah tidak ada airnya sejak dua bulan lalu. Tidak seperti tahun lalu, masih ada kiriman hujan sesekali. Jadi hasil tanam jagung juga mencapai tujuh kuintal dalam satu hektare,” jelas Ningsih, salah satu petani.

Menurutnya, tahun ini hanya empat kuintal jagung yang didapat. Lahan tanaman jadi mengering, ditambah lagi faktor lain seperti hama.

Kabid Rehabilitasi Rekonstruksi BPBD Kabupaten Mojokerto Dian Sugeng memperkirakan seluruh waduk di Kabupaten Mojokerto akan mengering bulan depan.

“Jumlah waduk yang ada di Kabupaten Mojokerto ada 61. Pada titik menuju puncak kemarau diperkirakan Oktober nanti, umumnya sudah mengering tidak ada air,” jelasnya, Sabtu (14/9).

Dian Sugeng mengatakan, dari 61 waduk yang mengering tersebar di 11 kecamatan di Kabupaten Mojokerto. Yaitu, wilayah utara Sungai Brantas di Kecamatan Jetis tiga waduk, Kecamatan Kemlagi tujuh, dan terbanyak Kecamatan Dawar 36 waduk. Sedangkan, delapan waduk tersebar di Kecamatan Sooko, dan masing-masing satu waduk di Kecamatan Bangsal, Kuterejo, Pungging, Puri.

“Tak bisa mungkiri kekeringan berimbas pada pertanian, peternakan, dan kebutuhan masyarakat sehari-hari. Hanya saja kekeringan untuk masyarakat sudah diantisipasi dengan suplai air bersih dari pemkab setiap hari,” terangnya.

Selain berdampak pada waduk mengering, musim kemarau panjang juga mengakibatkan ratusan hektare lahan Perhutani Pasuruan dan Tahura Raden Soerjo terbakar.

Selama musim kemarau tahun ini tercatat lahan terbakar mencapai 157 hektare di empat lahan. Di antaranya hutan KPH Perhutani Mojokerto seluas 18 hektare, KPH Mojokerto 15 hektare, KPH Pasuruan 15 hektare, dan terluas di wilayah hutan Tahura R. Soerjo139 hektare.

“Rata-rata yang terbakar area semak-semak dan tumpukan daun-daun kering,” paparnya.

Banyaknya area lahan hutan yang terbakar, tak lain disebabkan faktor medan yang sulit. “Bahkan tidak bisa dijangkau tim atau petugas. Soalnya terlalu curam, dan angin yang cukup kencang,” imbuhnya.(Riz)

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close