Berita Lokal PekanbaruInternasional

Jamaah Haji Indonesia Kesulitan Cari Toilet di Mina

Oleh: Anita Sinuhaji

Metropekanbaru.com, MEDAN– Jamaah haji di Tanah Suci Makkah sudah memasuki hari kedua pelontaran jumrah di Jamarat, Mina. Ini merupakan prosesi akhir bagi jamaah dalam menjalankan ibadah haji.

Karena kondisi di Mina sangat padat dan jamaah tinggal di tenda, toilet menjadi masalah utama. Jamaah yang ingin melaksanakan ibadah wajib seperti shalat sangat sulit lantaran minimnya tempat mandi, cuci, dan kakus.

Hal ini diungkapkan salah satu jamaah yang juga ketua rombongan kelompok terbang (kloter) 16 Embarkasi Medan, Adi Mansyar, Senin (12/8). Menurut dia, hanya ada satu toilet dengan 14 kloset untuk seribuan jamaah.

“Di sini jamaah saling menunggu untuk mendapatkan giliran kamar mandi. Terkadang membutuhkan waktu 5 sampai 14 menit. Sebab masing-masing membutuhkan waktu 4 sampai 6 menit untuk 1 orang jamaah di dalam kamar mandi. Sedangkan antrean paling cepat membutuhkan waktu 15 sampai 20 menit,” ungkapnya.

Untuk tempat wudhu pun, jamaah harus antre. “Sehingga banyak jamaah yang mempergunakan jatah air minum jamaah untuk mengambil wudhu. Bahkan ada juga yang menggunakannya untuk mandi,” katanya.

Baca Juga  Ini Contoh Buruk Mendag Enggar, Mangkir Dipanggil KPK

Adi juga menyebutkan, pada hari pertama memasuki Mina tepat pukul 14.00 WAS, hujan turun membasahi bumi Mina dan Muzdalifah. Jamaah yang berjalan kaki menuju Jamarat untuk melempar jumrah aqabah dengan 7 kali lemparan mendapat kemudahan karena matahari dari yang terik berubah menjadi teduh.

“Alhamdulillah turunnya hujan membuat banyak jamaah melakukan aktivitas ibadah di tenda-tenda maktab masing-masing,” terangnya.

Hal senada dikatakan oleh, Asbin Ahmad Pasaribu Ketua Kloter 21 Embarkasi Medan. Dia mengaku memang sulit untuk mendapatkan toilet karena jumlah jamaah di maktab yang terlalu banyak.

“Hal ini cukup mengganggu karen harus antre berwudhu toilet. Tetapi bisa disiasati dengan menggunakan air minum mineral kemasan yang disediakan pihak maktab. Selain itu ada kesulitan lainnya dimana kapasitas 1 maktab misalnya 18 orang di isi 30 sampai dengan 40 orang sehingga jemaah ada yang tak tertampung di dalam tenda dan harus tidur beratapkan langit langsung. Semoga ini ujian yang harus disabarkan para jemaah,” pungkasnya. (Far/Aza/INI Network)

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close