Berita Lokal PekanbaruNews

Ini Santapan Tradisi : Es Pleret Temani Ketupat dan Sambal Jenggot

OlehRizki Daniarto

Metropekanbaru.com, BLITAR-Ini santapan yang menjadi tradisi. Selain ketupat, juga ada sambal jenggot. Minumnya, es pleret. Seperti apa itu? Ini laporannya.

Ada menu tambahan yang terasa tak lengkap jika merayakan Lebaran Ketupat. Tradisi tujuh hari pasca Idul Fitri ini juga dirayakan warga Kelurahan Kauman, Kecamatan Kepanjen Kidul, Kota Blitar, Jawa Timur.

Tak hanya ketupat, lontong, opor ayam, kerupuk udang, pindang atau sambal goreng telur, dan sebagainya. Namun, ada minuman pelengkap yang tersedia saat perayaan tersebut. Sajian minuman tersebut adalah Es Pleret.

Tak heran bila tradisi makan ketupat bersama seluruh warga Kauman terasa tambah istimewa. Apalagi gelaran Lebaran Ketupat ini diadakan di sejumlah gang kampung Kauman serta di Kantor Kelurahan Kauman di Jalan Anjasmoro, Kota Blitar. Perayaan tradisi ini dihelat mulai Sabtu (15/6) malam.

“Ini sebenarnya acara tahunan Festival Es Pleret. Namun, para kiai di Kauman meminta agar tahun ini ada kupatan juga. Kenapa ketupat? Karena ini konon merupakan makanan santri pondok saat Syawalan,” kata Lurah Kauman, Suprabowo.

Menurut Bowo, panggilan akrabnya, tradisi Festival Es Pleret berlangsung setiap tahun. Namun, tahun ini kemasannya berbeda karena dipadukan dengan kupatan plus sayuran khas. Seperti sayur rebung, opor ayam, pindang atau sambal goreng telur, dan sambal jenggot. Sambal jenggot ini tidak ditemukan di tempat lain, karena terbuat dari kelapa parut dan disambal.

“Jadi, sayurnya juga tidak ditemukan di daerah lain. Ketupat dipadukan dengan pindang telur yang hitam itu, plus sambal jenggot,” kata Bowo.

Untuk merayakan festival tahunan ini, warga secara swadaya iuran. Masing-masing keluarga berkreasi membuat menu minuman pleret untuk kupatan Syawal.

Warga kelurahan di sisi barat Alun-Alun Kota Blitar menyambut acara ini dengan antusias. Sejak petang mereka telah menyiapkan es pleret dan ketupat yang dilengkapi dengan sayur rebung.

Aris Pambudi, warga yang tinggal di belakang Masjid Agung Kota Blitar, misalnya. Dia membuat dua ketupat plus sayur rebung dan sepuluh gelas es pleret. Warga juga iuran Rp5 ribu untuk tambahan menyiapkan menu Syawalan kupat ini.

“Setiap RW menyediakan 100-an porsi. Di tempat saya dibuat secara swadaya. Setiap rumah menyediakan dua ketupat atau uang Rp5 ribu, ” ujar Aris.

Tradisi Syawalan kupat ini baru tahun ini digelar. Namun, antusias warga sangat besar untuk mengembalikan tradisi yang nyaris hilang ditelan zaman. Rencananya setiap tahun digelar agar tradisi ini tetap lestari. (Riz)

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close