Berita Lokal PekanbaruKhazanah

Ini Kisah Kemaluan Berbisa (4-Habis) : Racun Itu Sirna Lewat Doa

Oleh : Arie Abieta/Djoko Su’ud Sukahar

Akhirnya dengan sangat hati-hati Putroe Neng menerima lamaran Teungku Syiah Hud. Ia berniat menyampaikan segala sesuatu yang sudah terjadi padanya,  terutama masalah bisa atau racun yang ada dalam tubuhnya.

Metropekanbaru.com, PEKANBARU-Nalurinya meyakini, Teungku Syiah Hudam yang merupakan suaminya yang ke-100, akan menjadi suami terakhirnya. Dengan harapan, sang suami mampu menyelamatkan dirinya, dengan membuang seluruh racun  yang bersemayam  di tubuhnya.

Setelah melakukan pernikahan, Teungku Syiah Hudam melewati malam pertama. Seluruh santri Teungku Syiah berkumpul, melakukan zikir doa bersama untuk keselamatan gurunya.

Malam pertama pernikahan ini ternyata berbeda dengan yang dialami Putroe Neng sebelumnya. Suami-suaminya yang 99 orang yang telah almarhum itu biasanya langsung mencumbu dan mengajaknya berhubungan badan.

Tapi tidak demikian dengan Teungku Syiah Hudam. Lelaki  yang dikenal memiliki ilmu tinggi itu memulainya dengan berdoa kepada Allah hingga mampu menyerap seluruh racun yang ada dalam tubuh istrinya.

Saat keduanya selesai berhubungan badan, Teungku Syiah Hudan tetap segar bugar. Putroe Neng sangat berbahagia. Sebab seluruh racun dalam tubuhnya telah hilang dengan kekuatan doa  suaminya. Tentu atas izin Allah.

Kebahagiaan itu juga dirasakan Teungku Syiah Hudan. Sebab tidak hanya mampu menyerap racun yang ada di dalam tubuh istrinya. Tetapi lebih dari itu, dia  bisa menghindari fitnah yang timbul di masyarakat yang berpandangan negatif atas kejadian yang mengerikan sebelumnya.

Setelah melewati malam pertama, esok harinya Teungku Syiah Hudan mengajak istrinya ke pesantren tempat tinggalnya selama ini  bersama santri-santrinya.

Baru saja memasuki gerbang pesantren, pasangan ini telah disambut dengan gema takbir. Para santri meneriakkan itu. “Allahuakbar, Allahuakbar, Alhamdulillah.” Terlihat seluruh santri itu bersujut.  Mengucap syukur, gurunya selamat dari kematian.

Menurut masyarakat di sekitar makam, suami Putroe Neng terakhir ini berhasil mengeluarkan bisa dari tubuh Putroe Neng tanpa disadari sang putri.

Sebab racun itu keluar dalam bentuk asap, dimasukkan dalam dua potong bambu sungsang. Satu bambu yang berisi racun itu dibakar, dan satu bagian lainnya dibuang ke laut.

Seperti  kata pepatah masa itu ada waktunya, waktu itu ada masanya, setelah terserap seluruh  racun yang ada dalam tubuh wanita ini, aura kecantikan Putroe Neng perlahan meredup termasuk karena bertambahnya usia. Pasangan ini tidak dikaruniai turunan sampai ajal menjemputnya.

Putroe Neng disemayamkan di Desa Blang Pulo, Kecamatan Muara Satu dalam komplek pemakaman yang berukuran kurang lebih 20 x 20 meter. Di pemakaman ini terdapat 11 makam, diperkirakan para pengikut setia dan korban perang Aceh lainnya.

Sedang suaminya yang ke-100 itu dimakamkan di atas bukit, sekitar 200 meter dari pusara Putroe Neng ini. Arie Abieta/Tamat

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close