Berita Lokal PekanbaruKhazanah

Ini Kisah Kemaluan Berbisa (2) : Malam Pertama Suami Terkapar

Oleh : Arie Abieta/Djoko Su’ud Sukahar

Penantian Meurah Johan kesampaian sudah. Dia berhasil menaklukkan hati perempuan cantik yang pemberani itu.

Metropekanbaru.com, PEKANBARU-Putroe Neng juga tak kalah sukacitanya. Sebab di matanya, Meurah Johan adalah sosok lelaki perkasa.

Ini sesuai dengan niatnya semasa masih memimpin pasukan. Dia telah berjanji pada dirinya sendiri, siapa saja yang mampu mengalahkannya, ia siap menjadi pendamping hidupnya.

Setelah salat Isya mereka menuju ke peraduan. Sebagai layaknya pengantin baru, mereka ingin mereguk kenikmatan itu. Dalam kesyahduan, kedua mempelai itu menikmati seribu kebahagiaan.

Di peraduan, saat mereka sedang menikmati malam pertamanya, tiba-tiba Sultan Meurah Johan mengGelepar. Tubuhnya kejang, dan setelah itu  tergeletak kaku. Tubuh itu membiru dan dari mulutnya keluar darah. Dia tewas.

Di usia perkawinannya  yang baru memasuki 15 jam, Putroe Neng sudah menjadi janda. Mangkatnya Meurah Johan itu tidak ada satupun yang tahu penyebabnya, termasuk Putroe Neng sendiri.

Duka menyelimuti batin Putroe Neng dan seisi istana. Butuh waktu panjang untuk melupakan suami terkasih yang meninggal tanpa sebab yang jelas.

Saat resmi menjadi janda itu, setelah habis masa idahnya, kecantikan  Putroe Neng ternyata semakin tersohor ke seluruh pelosok negeri. Ini menyilaukan mata banyak lelaki.

Nama Putroe Neng setiap saat selalu menjadi pembicaraan. Mulai dari rakyat kebaNyakan  sampai dengan para bangsawan. Banyak pria bagaikan pungguk merindukan bulan.

Dalam perjalanan waktu, ternyata kematian Meurah Johan di peraduan sebagai suami pertama Putroe Neng bukan merupakan lelaki pertama. Sebab setelah itu, banyak lagi lelaki yang meninggal saat mereguk malam pertama.

Mungkin karena terpukau akan kecantikan sang putri, hingga melupakan ketakutan akan kematian bagi setiap lelaki yang ingin menjadi suami Putroe Neng. Rasa takut itu selalu ditepis dengan ‘mungkin’ itu hanya kebetulan saja.

Sejak kejadian itu, masyarakat, terutama kaum ibu yang memiliki anak lelaki, apa lagi yang hanya punya satu satunya anak laki laki di antara anak perempuan atau anak lelaki  tunggal, merasa sangat kuatir. Mereka  ketakutan. Takut anak lelakinya itu jatuh cinta dengan Putroe Neng, dan akan mati tragis seperti laki-laki yang lain. Bersambung/Arie Abieta/jss

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close