Berita Lokal PekanbaruNews

Gempa Terjadi Berurutan, Ada Apa Ya

Oleh: Arya Bagus Wicaksono

Metropekanbaru.com, JAKARTA– Rentetan gempa yang terjadi akhir-akhir ini banyak menimbulkan spekulasi hingga cocoklogi di masyarakat. Bahkan ada yang berasumsi gempa seperti berpindah dari satu titik ke titii lain. Kebetulankah? Bagaimana penjelasan ilmiah soal ini.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meluruskan anggapan warga yang cenderung mencocok-cocokkan (cocokologi) rentetan kejadian gempa belakangan ini.

Salah satu isu yang berkembang pascagempa Banten magnitudo 6,9 2 Agustus 2019 lalu, viral di media sosial akan terjadi gempa besar berkekuatan magnitudo 9,0 dan mereaksi sesar Baribis. Padahal, menurut BMKG, peristiwa gempa yang bersamaan pada dasarnya hanyalah faktor kebetulan.

Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG Daryono mengatakan, dalam perkembangan ilmu kegempaan ada dua teori pemicuan antargempa.  Pertama, pemicuan yang bersifat statis (permanen) dan kedua pemicuan yang bersifat dinamik (berpindah).

“Pemicuan statis terjadi pada gempa-gempa yang sangat dekat lokasinya. Sebagai contoh munculnya gempa baru di Lombok bagian barat dan timur yang diduga akibat picuan statis (Static Coulomb stress changes) dari gempa Lombok M 7,0 sebelumnya. Transfer tegangan statis ini berkurang terhadap jarak dan disebabkan perpindahan patahan yang permanen,” katanya dalam keterangan resmi BMKG.

Sementara untuk pemicuan dinamis, berkaitan dengan gempa dekat dan jauh. Transfer tegangan dinamis nilainya lebih kecil, berkurang melambat terhadap jarak dan merupakan tegangan yang dibawa gelombang seismik melalui batuan.

Konsep pemicuan dinamik lebih sering dikaitkan dengan potensi gempa yang dipicu dari jauh. “Karena nilai transfer tegangannya kecil, maka syarat utama yang dibutuhkan adalah patahan yang akan terpicu harus berada di titik paling kritisnya, sehingga sedikit saja “dicolek” oleh perubahan tegangan, patahan memicu gempa,” katanya.

Dia mengatakan, konsep pemicuan dinamik sangat rumit dan banyak syaratnya. Bagi mereka yang paham ilmu seismologi justru akan berhati-hati, tidak mudah mengatakan sebuah gempa dapat dipicu gempa lain.

Apalagi menduga dan mencocok-cocokkan antara satu gempa dengan gempa lain. Seolah antargempa mudah saling terpicu. “Namun satu hal yang pasti, rentetan gempa akhir-akhir ini terjadi di zona sumber gempa. Ini wajar, sehingga jika ada gempa yang terjadi hampir bersamaan maka faktor kebetulan saja,” katanya.

Masing-masing sumber gempa memiliki medan tegangan sendiri dan dapat mencapai akumulasi maksimum hampir bersamaan. Kemudian, mengalami pelepasan energi sendiri-sendiri yang hampir berbarengan.

Dia menyampaikan hal yang terpenting adalah bagaimana cara mengidentifikasi bencana gempa yang telah terjadi. “Ini penting agar setiap peristiwa bencana menghasilkan pembelajaran untuk perbaikan mitigasi, hingga kita mampu memperkecil risiko, menekan korban dan kerugian jika terjadi gempa kuat di kemudian hari,” katanya. Ari/INI/Balicitizen

Baca Juga  Polda Riau Tetapkan 2 Korporasi Tersangka Karhutla
Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close