Berita Lokal PekanbaruNews

Fungsionaris DPP Golkar : Suara Turun, Internal Partai Bergejolak

Oleh: Ahmad ZR

Metropekanbaru.com, JAKARTA– Partai Golkar dinilai sudah sepatutnya kembali memikirkan bagaimana mengonsolidasikan politik, baik secara internal maupun secara eksternal. Fungsionaris DPP Partai Golkar, Syamsul Rizal mengatakan, dalam kapasitas sebagai ketua umum partai, Airlangga Hartarto sebaiknya segera melaksanakan rapat pleno sebagai bentuk konsolidasi internal dalam rangka mempersiapkan agenda Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Partai Golkar dan agenda lainnya.

“Rapim ini kan juga amanat AD/ART partai,” kata Syamsul di Jakarta, Rabu (3/7).

Selain menjabat sebagai ketua umum partai, Airlangga juga masih sebagai menteri perindustrian. Oleh karena itu, Syamsul menyarankan Airlangga segera kembali fokus menyelesaikan tugas-tugas negara. “Memang sulit kalau seorang ketua umum partai juga melekat dalam dirinya memegang jabatan publik. Apalagi kita tahu bahwa jabatan eksekutif itu adalah penyelenggara undang-undang,” katanya.

Syamsul menjelaskan di dalam Partai Golkar secara struktur ada wakil-wakil ketua, ada juga koordinator bidang (korbid). Jika ketua umum berhalangan karena kapsitasnya juga sebagai pembantu presiden, tugas-tugas pokok partai yang lain dapat didelegasikan ke wakil-wakil ketua atau korbid sesuai tupoksinya, sehingga roda organisasi itu terus bergerak dan tidak stagnan.

“Saya mau mengingatkan kepada kita semua bahwa sumber masalah terjadinya polemik partai usai pileg dan pilpres saat ini karena secara elektoral kursi Golkar memang berkurang signifikan, demikian juga dari sisi parlemen treashold suara Golkar juga drastis turun,” ujar Syamsul.

Maka itu, kata dia, tidak salah jika kemudian timbul riak riak di internal, karena menyangkut masalah partai yang sangat mendasar. Bukan masalah dukung-mendukung atau suka tidak suka dan lain-lain. “Saya menilai kepengurusan saat ini memang gagal. Namun, bukan dalam arti kegagalan Airlangga secara personal, tetapi kegagalan secara kolektif,” kata dia.

Syamsul menuturkan, jika dibandingkan perolehan suara dan kursi yang pernah disumbangkan saat periode Aburizal Bakrie sebagai ketua umum pada Pemilu 2014, capaian Golkar saat ini justru semakin menjauh. Terlebih, kurangnya sangat jauh dari apa yang dijanjikan Airlangga yakni dengan target 110 kursi.

Mengenai pernyataan Rizal Malarangeng yang menyebut “Bambang Soesatyo lupa diri”, menurut Syamsul pernyataan tersebut tak jauh beda dengan pernyataan seorang anak TK yang baru belajar nyanyi. Pantasnya, kata dia, Rizal harus berterima kasih kepada Bambang Soesatyo alias Bamsoet yang kritis terhadap kondisi Golkar yang saat ini sedang mengalami keterpurukan.

“Termasuk keterpurukan perolehan suara dan kursi Partai Golkar di DKI akibat dari kegagalan kepemimpinan Bung Rizal Malarangeng dalam memimpin Golkar DKI saat ini,” ucap Syamsul.

Dia menegaskan, pesta demokrasi sudah selesai. Golkar secara organisasi sudah memberikan kontribusi politik kepada Presiden Jokowi untuk periode kedua. Karenanya, Syamsul meminta kepada Presiden Jokowi melalui timnya untuk mengevaluasi juga hasil-hasil perolehan suara capres di setiap partai pengusung.

“Siapa pun itu, tidak boleh lagi menarik nama besar presiden ke dalam polemik partai saat ini. Apalagi mengembangkan pernyataan presiden yang multi tafsir seolah-olah Presiden Jokowi mendukung salah satu kandidat (ketua umum) yaitu Airlangga dalam sebuah polemik satu partai politik yaitu Golkar, jelas akan merusak etika kenegeraan,” tuturnya. (AIJ)

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close