LifestyleNasionalNews

Film The Santri Diprotes Keras, Kenapa Ya?

Oleh: Ahmad ZR

Metropekanbaru.com, JAKARTA – Film The Santri yang disutradarai Livi Zheng menuai banyak protes. Tidak hanya mengundang komentar netizen di laman media sosial. Di Youtube, sudah banyak video pendek yang mengkritik dan mengupas sisi negatif dalam trailer film tersebut.

Mulai dari komentar netizen soal sosok pribadi putri Ustaz Yusuf Mansur, Wirda, yang mengumbar foto berduaan hingga visual film yang saling melirik dengan lawan jenis. Bagi sebagian netizen, kondisi ini jauh dari budaya pesantren, terlebih dalam syariat Islam.

Mana ada pacaran atau berduaan yang dibolehkan, itu salah satu protes warganet. Namun, terlepas dari apa pun kritik terhadap film tersebut, yang tampak memang masih cuplikan alias trailer.

Masalah ini bahkan sampai di sebuah pengajian pengasuh Majelis Al-Bahjah, Ustaz Yahya Zainul Ma’arif atau disapa akrab Buya Yahya. Sebuah penanya mempersoalkan film tersbeut.

Namun, Buya Yahya tidak menilai film tersebut karena belum menyaksikan seperti apa. Buya Yahya hanya menjelaskan secara umum, apa dan bagaimana seharusnya sebuah film itu disebut atau diterima sebagai film dakwah.

Terlebih, jika film tersebut dikaitkan dengan Islam dan pesantren sebagai wadah kaderisasi ulama. Ini landasan umum yang disampaikan, apa pun jenis filmnya.

Pertama, kata Buya Yahya, orang yang mengontrol alur film, mulai dari penyusunan naskah hingga proses pembuatan film harus memahami syariat Islam. Sehingga, nilai yang disampaikan tidak kontradiksi dengan ajaran Islam.

“Kedua, sebelum finalisasi dan dinyatakan sebagai film utuh, maka harus ditinjau kembali oleh orang yang memahami syariat, jangan sampai ada yang melanggar syariat,” kata Buya Yahya melalui ceramahnya di Youtube yang dikutip Indonesia Inside, Rabu (18/9).

Ketiga, dalam proses pembuatan tidak boleh ada perbuatan-perbuatan atau adegan yang dapat menjerumuskan kepada aturan yang dilarang dalam syariat Islam. Seperti berbaur antara laki dan perempuan yang bukan mahram, berpelukan apalagi berbuka aurat.

“Maka, jika dari awal sudah dikontrol oleh orang mengerti syariat dan ketika selesai dikontrol kembali (tidak ada yang bertentangan), baru berbicara tentang kisah,” katanya.

Berbicara pesantren sebagai objek dalam film tersebut, ujarnya, sutradara harus memahami betul karakter kehidupan dan tradisi di pesantren. Selain itu, sisi penting yang harus ditonjolkan adalah keluhuran akhlakul karimah santri.

“Jangan sampai berbicara pesantren tapi alur ceritanya ngaco, bisa ngamuk dan citra pesantren jadi rusak. Coba ada orang Indonesia bikin film tentang Indonesia tapi ngaco, kan bisa marah semua orang Indonesia, maka harus benar cerita film (The Santri) ini,” tuturnya.

Sebab, menurut Buya Yahya, budaya santri dengan siswa sekolah pada umumnya berbeda, baik dari tradisi keilmuan maupun aktifitas kegiatannya. Sehingga ada suatu norma dimana orang lain dapat melakukan, namun santri dilarang mengikuti karena mempunyai prinsip dan akhlak.

“Kalau misalkan buat film harus ada gaulnya, maka jangan melibatkan pesantren. Karena nanti bisa jadi fitnah dan merusak wajah pesantren yang ingin membangun (akhlak mulia),” kata Buya Yahya.

Ia menegaskan, meskipun film adalah suatu kreasi untuk menyampaikan nilai dan pesan moral, maka harus berpacu pada referensi dan sandaran yang benar. Bukan berpaku pada selera pasar, namun abai dengan tatanan yang selama ini dibangun.

“Pembuat film sendiri harus kenal agama (Islam) dan karakter pesantren, bukan karena dia penulis skenario dan sutradara yang ingin membidik pasar karena lagi ramainya gerakan hijrah, padahal dia tidak kenal hijrah,” katanya. (Aza)

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close