Berita Lokal PekanbaruRamadhan Kita

Eh, Ada Tradisi Tujuh Likur untuk Terangi Rumah di Akhir Ramadan

Oleh: Azhar A Pawennay

Metropekanbaru.com, Umat Islam Nusantara tak hanya memiliki perbedaan aliran dan mazhab dalam beragama namun di beberapa daerah punya tradisi sendiri-sendiri. Beberapa di antaranya merupakan tradisi dari para pendahulu mereka yang masih dilestarikan.

Di Maluku Tengah, misalnya, warga muslim di Desa Wakal, Kecamatan Leihitu (Pulau Ambon), Kabupaten Maluku Tengah, memperingati malam tujuh likur Ramadan 1440 Hijriah, pada Rabu (29/5). Malam tujuh likur diperingati dengan menyalakan ratusan lilin, pelita, dan obor di rumah dan berbagai kawasan. Wajah desa pun terang benderang hingga subuh.

Seperti dilaporkan Antara, ratusan lilin, pelita, dan obor mulai dinyalakan warga setempat selepas maghrib dan baru akan dipadamkan saat fajar. Semua rumah menyatakan diterangi layaknya sebuah pesta cahaya. Itulah disebut malam lulur.

Lilin, pelita, dan obor yang dinyalakan di teras-teras rumah penduduk, berbagai sudut jalan dan kawasan, termasuk di komplek pemakaman. Di jalan-jalan juga ramai dengan pawai dan takbir keliling.

Peringatan malam tujuh likur di Wakal ini diramaikan anak-anak dan remaja setempat dengan berjalan keliling kampung membawa obor sambil bertakbir, dan menyanyikan lagu suka cita tentang Hari Raya Idul Fitri.

Aktivitas membawa obor keliling kampung itu dilaksanakan usai salat maghrib dan baru dihentikan saat memasuki waktu salat isya.

Berada di antara Desa Hitu Lama dan Hila, Wakal merupakan satu dari 12 kampung berpenduduk muslim di Kecamatan Leihitu. Umat Islam di Wakal melaksanakan ibadah puasa 1 Ramadan 1440 Hijriah pada 4 Mei 2019, dua hari lebih dulu dari yang ditetapkan oleh Kementerian Agama RI.

Sebagai desa adat, Wakal masih mempertahankan tradisi-tradisi yang dilaksanakan sejak masa leluhur mereka, termasuk menetapkan waktu pelaksanaan ibadah 1 puasa Ramadan yang tidak hanya menggunakan metode perhitungan hisab secara rukyat, tetapi juga berpatokan pada kalender falakiah kuno yang tersimpan di Masjid Nurul Awal.

Memperingati malam tujuh likur dengan menyalakan banyak cahaya, juga merupakan salah satu tradisi yang telah dilaksanakan oleh warga Wakal secara turun-temurun sejak ratusan tahun lalu.

Menerangi kampung dengan banyak cahaya oleh warga Wakal dimaksudkan sebagai ungkapan syukur dan suka cita terhadap turunnya firman Alquran, yang juga dimaknai sebagai cahaya penerangan bagi umat muslim.

Di desa lain, ada sebuah tradisi Maasiri Rumah Sigit yaitu pergantian atap Masjid Tua Uli Hatuhaha, di Desa Rohomoni. Tradisi ini gelar pada Rabu (21/5). Tradisi pergantian atap Masjid yang dibangun pada abad 16 Masehi tersebut dilakukan setahun sekali sebagai simbol penyucian dan pembersihan diri pada bulan Ramadhan. (Aza/Ant/jss)

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close