Berita Lokal PekanbaruKhazanahNews

Kolom : Cinta Tanah Air di SoE

Oleh : Djoko Su’ud Sukahar

Metropekanbaru.com, TTS-BMKG merilis, terjadi kemarau panjang di Nusa Tenggara Timur (NTT). Tanpa setitik air dari langit itu berlangsung selama dua bulan. Tak terbayang, betapa kering kerontangnya kawasan yang berada di Pulau Flores, Pulau Sumba, serta Pulau Timor.

Bagi yang belum mengenal kawasan ini, panas itu seperti monster yang menakutkan. Tetapi untuk penduduk yang tinggal di daerah ini, mereka menganggapnya biasa-biasa saja. Sebab panas terik seperti itu rutin tiba saban tahunnya.

Bagi saya pribadi, ada kenangan menggelitik soal panas ekstrem di NTT ini, khususnya yang terjadi di Pulau Timor.

Di tahun 1990-an itu saya berada di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), saat Pieter Alexander Tallo (Piet Tallo almarhum), menjabat sebagai Bupati TTS yang beribukota di SoE.

Kota ini masih gelap. Listrik hanya menyala sampai pukul 24.00 WIT. Di kota ini hanya ada dua losmen. Dan penduduknya membuat saya terkagum-kagum, karena semuanya masih memakai pakaian tradisional, tais (sarung).

Saya menikmati eksotisme itu. Saya seperti berada di sebuah karnaval raksasa yang digelar saban hari.

Malam-malam, sering Piet Tallo sang bupati ini mendobrak kamar saya. Dia mengajak ‘jagongan’ di restoran losmen yang lampunya terus menyala.

Bulan pertama berteman dengan Piet Tallo, saat memasuki musim hujan, tenyata tokoh yang banyak ide ini punya gagasan gila untuk rakyatnya.

Menurut saya, ide itu menyalahi HAM, dan tidak manusiawi. Tapi Piet ngotot. Dia harus melakukan itu terhadap rakyatnya sebagai tanggungjawab moral sebagai putra daerah dan seorang pemimpin.

Baca Juga  Berani Bolos Tanggal 10 Juni? Awas ASN Diancam Sanksi

“Aku itu lahir di daerah ini Mas Djoko. Aku tahu bagaimana etos kerja mereka. Kalau tidak dipaksa, mereka akan terus miskin sampai kapan saja,” katanya.

Program yang ‘tak manusiawi’ itu disebut Piet sebagai ‘Cinta Tanah Air’. Program itu dijalankan ketika musim hujan tiba. Piet mengerjakan sendiri, dengan keluyuran ke pasar, jalanan, dan terminal.

Setiap ketemu penduduknya, dia turun dari mobil dan menanyai mereka. “Sedang apa kamu di sini,” tanya Piet.

Jika mereka menjawab sedang jalan-jalan, sedang lihat-lihat, maka Piet dengan keras menyuruh mereka membuka mulut. Tanah yang dibawa dimasukkan mulut mereka, dan dituangi air.

Setelah itu Piet mengusir mereka untuk balik kampung dan bekerja.

Bagi Piet, hujan adalah berkah. Di kawasan ini, kemarau tujuh bulan itu masuk kategori normal. Musim hujan yang pendek itu harus dimanfaatkan secara maksimal. Jika tidak, maka di musim kemarau kelaparan akan melanda mereka.

Namun apapun alasannya, yang dilakukan Piet masih belum bisa saya terima. Saya merasa kasihan pada penduduk yang terlihat takut dan berusaha kabur jika melihat Piet di kejauhan.

Mungkin melihat ekspresi saya yang tak sepaham itu, maka Piet dengan lembut mendekati saya. Dia bilang, esok pagi saya akan diajak jalan-jalan melihat desa-desa yang ada di TTS.

Esoknya, Piet dengan keakrabannya sudah tiba di losmen. Suaranya yang keras dan tawanya yang lepas berteriak untuk mengajak segera berangkat.

Baca Juga  Malam Nanti Riau Hujan Disertai Petir dan Angin Kencang  

Desa-desa di TTS kala itu taklah gampang disusuri. Rumah mereka rata-rata kalau tidak di dasar jurang, maka hampir pasti di atas bukit.

Letak rumah seperti ini bukan tanpa alasan. Penjajah Belanda dan Portugis yang menerapkan politik de vide et impera (pecah-belah) telah menyebabkan banyaknya suku yang ada di Pulau Timor mencari lokasi yang aman dihuni. Aman itu maknanya sulit didatangi.

Dari ketinggian Piet mengajak turun dari mobil. Dia menunjuk kampung yang ada. Dia mengarahkan jarinya ke asap yang mengepul dari tiap lopo (rumah).

“Asap itu menunjukkan mereka masih bisa makan. Jika kemarau tiba, asap itu banyak yang hilang. Itu yang membuat saya sedih, dan kenapa saya bertindak keras terhadap mereka. Kalau asap itu tak ada, maka saya harus pontang-panting ke sana, memberi mereka makan supaya tidak mati kelaparan,” kata Piet menghela nafas panjang.

Kala itu, penyakit busung lapar bukan kabar aneh di kawasan ini. Hanya, memang tak boleh ditulis.

Bagaimana dengan kemarau panjang yang kini melanda kawasan NTT? Adakah kelaparan akan melanda wilayah ini? Atau busung lapar tetap menjadi momok warga Timor?

Mungkin ini hanya catatan masalalu.

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close