Berita Lokal PekanbaruNews

Bumi Manusia : Romantisme di Masa Kolonial

Oleh: Anisa Tri K

Metropekanbaru.com, JAKARTA –

Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan.” (Bumi Manusia, 1980)

Mungkin Anda sudah tidak asing dengan kutipan di atas. Terutama para pembaca novel ‘Bumi Manusia’ karya Pramoedya Ananta Toer. Buku pertama dari tetralogi Pulau Buru itu sangat melegenda dan penuh kontroversi. Bahkan sempat dilarang beredar di masanya, sekaligus jalur pembuka bagi sastra Indonesia ke mata dunia.

Buah karya Pram ini berhasil menggambarkan persoalan yang terjadi pada masa pra kemerdekaan Indonesia. Pram memberi ilustrasi dengan nyata soal penindasan, perbudakan yang dilakukan oleh para penjajah kolonial kepada pribumi. Melalui tulisannya, Pram menunjukkan tindak perlawanannya terhadap pemerintah kolonial.

Kepiluan Iringi Proses Pembuatan Bumi Manusia
Pram membuat novel fenomenal ini ketika dirinya selama 10 tahun harus mendekam dan terasingkan bersama ribuan orang di Pulau Buru, Maluku. Ia ditahan karena dianggap sebagai simpatisan dan tergabung dalam anggota Partai Komunis Indonesia (PKI).

Di Pulau Buru, Pram menempati Unit III yang dibangun tentara untuk para tahanan politik (tapol) yang dituduh terlibat Gerakan 30 September PKI. Pram bersama kedua teman dekatnya yaitu Oey Hay Djoen dan Lucas Tumiso harus berada di unit yang diketahui sebagai unit terpencil.

Mereka bekerja sebagai kuli untuk pembangunan jalan penghubung antarunit. Namun, menurut penuturan Tumiso, Pram jarang bekerja fisik karena lebih banyak menulis naskah di barak.

Di awal-awal masa pengasingan, Pram tidak memiliki peralatan yang bisa mendukung aktivitasnya. Ia tak memiliki kertas bahkan pulpen untuk menulis naskah. Tapi, kondisi ini tidak membuat Pram lantas putus asa untuk terus menghasilkan karya.

“Pram menggunakan kertas semen bekas tentara membangun rumah komandan,” kata Tumiso seperti yang dikutip dari CNNINdonesia.com, tahun 2015 silam.

Selain kertas dari semen bekas itu, Pram mendapat pulpen dari petugas rohaniawan Katolik yang secara berkala berkunjung ke Pulau Buru dengan tujuan untuk memberikan bimbingan. Saat itu, dunia sudah mengetahui bahwa ada sastrawan yang ditahan pemerintah di Pulau Buru. Untuk menepis isu negatif, pemerintah memberikan mesin tik lengkap beserta kertas dan tinta pita sebagai dalih bahwa tak ada penahanan terhadap Pram.

Bagi Tumiso, pencitraan pemerintah itu masih saja disebut penahanan jika naskah yang dibuat oleh Pram tidak boleh disebarluaskan. Kertas yang diberikan juga sangat terbatas.

Ditengah keterbatasan, Pram harus mengakali dengan cara membeli kertas dari luar Buru. Uang yang ia gunakan berasal dari hasil menjual kerajinan yang dibuatnya.

Berkat hasil penyelundupan Tumiso, naskah-naskah Pram berhasil dibawa keluar dari Pulau Buru. Tumiso adalah sosok yang berperan pada pembuatan naskah-naskah Pram.

Sebagai teman dekat Pram, Tumiso adalah mantan guru yang kerap memberikan pembelaan pada buruh tani di Surabaya. Tumiso mengaku paham betul soal agraria dan aksi kaum tani. Akhirnya, Pram bersama Tumiso dan Oey dibebaskan pada Desember 1979 dari Pulau Buru.

Namun, nasib tidak berujung manis. Mereka bertiga harus kembali ditahan selama sebulan di Magelang dan Semarang. Tanggal 30 April 2006, Pram meninggal dunia di usia 81 tahun. Sementara Oey Hay Djoen meninggal dua tahun sesudah kepergian Pram.

Sedangkan Tumiso, masih aktif mengurusi panti jompo di daerah Kramat, Jakarta Pusat.

Selama di Pulau Buru pula, Pram banyak menulis. Kata-katanya tak bisa dikekang oleh pemerintah bahkan pihak-pihak yang terus menekannya kala itu.

Sepenggal Kisah Romasa Bumi Manusia
Novel roman sejarah itu menceritakan tentang perjalanan tokoh Minke. Ia merupakan anak pribumi yang berdarah priyayi yang bersekolah di HBS (Hogere Burger School) atau setara dengan sekolah lanjutan tinggi pertama bagi elite pribumi.

Minke digambarkan sebagai seorang revolusioner dan berani melawan ketidakadilan seperti terhadap kebudayaan Jawa. Di tengah perjalanannya, Minke jatuh cinta terhadap Annelies, putri dari Nyai Ontosoroh perempuan simpanan atau gundik dari Tuan Mellema.

Di masa kolonial Belanda, pernikahan campur antara pribumi dan Indo tidak dibenarkan. Kematian Tuan Mellema pun mengharuskan Annelies dibawa ke Belanda dan membuatnya jauh dari Minke.

Penolakan Bumi Manusia
Dikutip dari berbagai sumber, penolakan terhadap ‘Bumi Manusia’ berlangsung pada April 1981 saat organisasi pemuda bentukan Orde Baru menggelar diskusi yang mengecam karya-karya Pram. Tiga surat kabar saat itu mulai menerbitkan kecaman terhadap Pram dan ‘Bumi Manusia’.

Pada 29 Mei 1981, Jaksa Agung mengeluarkan SK-052/JA/5/1981 tentang pelarangan ‘Bumi Manusia’ dan ‘Anak Semua Bangsa.’ Buku yang tersebar di toko buku pun disita semuanya. Bahkan penerjemah ‘Bumi Manusia’ Maxwell Lane dari Australia dipulangkan ke negara asalnya pada September 1981.

Diangkat ke Layar Lebar
Keinginan sutradara Hanung Bramantyo untuk menggarap Bumi Manusia sebenarnya sudah ada sejak tahun 1996-1997. Namun, niatan tersebut tidak terlaksana lantaran mendapat penolakan dari Pram.

Kesempatan Hanung untuk menyutradarai film Bumi Manusia kembali datang pada tahun 2008.
Usai kesuksesan film Ayat Ayat Cinta, Hanung ditawari oleh Hatoek Soebroto dan Deddy Mizwar untuk menjadi sutradara film Bumi Manusia.

Meski Hanung langsung menerima tawaran itu dan bahkan rela tak dibayar, tetapi film Bumi Manusia diambil alih oleh Mira Lesmana.

Sejak 2010 hingga 2012, Mira menyiapkan produksi film. Mulai dari mencari pemain, lokasi, riset, hingga pendanaan.

Namun, usaha Mira tak berhasil. Ia kekurangan dana dan tak kunjung mendapatkan investor. Hingga akhirnya pada 2014, rumah produksi Falcon Pictures membeli hak adaptasi Bumi Manusia dan karya Pram lainnya, yakni Perburuan.

Penantian panjang itu akhirnya tiba. Hanung kembali mendapat kesempatan untuk menyutradarai Bumi Manusia dua dekade kemudian. Kini, film Bumi Manusia garapan Hanung Bramantyo, sudah bisa disaksikan di seluruh bioskop di Indonesia. (PS)

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close