Berita Lokal PekanbaruNews

Berkhasiat Sembuhkan Kanker, Akar Bajakah Dilarang Keluar Kalteng

Oleh: Arif S

Metropekanbaru.com, PALANGKARAYA–  Dua remaja ini, Anggina Rafitri dan Aysa Aurealya Maharani, kini menjadi orang yang paling dicari di Kalimantan Tengah. Gara-garanya, apalagi kalau bukan lantaran hasil temuannya berupa air dari akar pohon bajakah yang diyakini mampu menyembuhkan kanker.

Dua siswa dari SMAN 2 Palangkaraya itu menemukan khasiat akar pohon bajakah yang dinilai luar biasa itu. Di laboratorium Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, mereka (awalnya bertiga dengan Rafi Akbar) melakukan penelitian tersebut.

Khasiat akar bajakah itu semula mereka ketahui dari derita yang dialami nenek Rafi Akbar. Sang nenek menderita kanker stadium empat yang sangat sulit disembuhkan. Nenek dan kakek yang berprofesi sebagai perawat tersebut rupanya kesulitan untuk bisa memenuhi biaya pengobatan. Karena pernah mendengar manfaat pohon bajakah yang bisa menyembuhkan beberapa penyakit, kakek-nenek itu pun rajin mengonsumsi ramuan yang bahannya berasal dari akar pohon bajakah.

Anehnya, setelah rajin mengonsumsi air yang terlebih dulu dimasak dengan pohon bajakah (bagian akar), sang nenek kembali sehat. Kejadian itulah yang menginspirasi Rafi untuk meneliti lebih lanjut tentang manfaat pohon bajakah. Bersama dua teman lainnya, mereka melakukan penelitiannya. Mereka memasak pohon bajakah ke dalam air dan hasilnya dijadikan teh.

Hasil penelitian itu lalu diikutkan dalam Olimpiade Sains di Korea Selatan. Anggina dan Aysa yang kemudian berangkat ke Seoul. Karya mereka ternyata mendapat anugerah medali emas. Popularitas temuan itu pun menyebar seantero Nusantara. Selain penghargaan dari pemerintah, popularitas pun mereka sandang.

Sampailah kemudian mereka mendapat kesempatan wawancara di sebuah televisi nasional. Usai acara itu, ribuan orang menyerbu dan mencari dua dara tersebut. Mereka hendak mencari tahu bagaimana cara mengolah pohon bajakah agar siap dikonsumsi oleh anggota keluarganya yang sedang menderita kanker.

Tak hanya itu, pohon bajakah kini laris manis. Permintaan begitu banyak. Tak hanya dari wilayah Kalimantan Tengah, namun dari luar pulau pun banyak yang meminta agar dikirim pohon bajakah. Keberadaan pohon itu pun kini menjadi incaran khalayak luas.

Merespon kondisi ini, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah lalu mengeluarkan seruan. Pemprov melarang pengiriman akar dan pohon bajakah ke luar wilayah provinsi tersebut. Hal ini karena pemerintah daerah khawatir, serbuan dan permintaan besar-besaran akan membuat pohon bajakah itu lenyap dari belantara Kalteng.

Biro jasa pengiriman pun ikut terkena dampak. Bila belakangan ini mereka ramai pesanan untuk mengirim pohon bajakah hingga ke luar pulau, kini mereka tak bisa seenaknya lagi. Jasa pengiriman tak boleh lagi menerima paket titipan pohon bajakah. Larangan ini justru sempat dikeluhkan oleh warga setempat.

Aturan itu dianggap sepihak, tanpa melihat kondisi di lapangan. Warga Tangkiling, Bukit Batu, Palangkaraya, bernama Agus Aroni menyesalkan keputusan tersebut. Dia mengaku tak bertindak komersial. “Itu pesanan sudara dan teman-teman yang memang membutuhkan akar bajakah,” tuturnya.

Ia menyarankan, sebaiknya pemerintah membuat aturan tertulis tentang larangan tersebut. Selama ini, larangan tersebut baru berupa imbauan namun tanpa ada penjelasan lebih lanjut.

Ketika bajakah viral, pemprov tiba-tiba saja melarang masyarakat untuk membawanya ke luar Kalteng. Menurut Agus, secara tiba-tiba saja ada pengumuman dari sejumlah jasa pengiriman yang menyatakan, bahwa pengiriman paket herbal khususnya bajakah untuk sementara waktu dilarang .

Ia menilai langkah Gubernur Kalteng, Yusuf Sugianto Sabran, dianggapnya arogan tanpa memahami kebutuhan masyarakat. Padahal, ujarnya, bajakah belum resmi menjadi obat paten. Andai sudah resmi menjadi obat paten, tentu keberadaan pohonnya akan dilindungi.

Meski protes namun Agus mengaku pasrah. “Ya apa boleh buat, saya tidak bisa melakukan apa-apa. Kami terpaksa harus menerima larangan ini,” paparnya.

Hal serupa disuarakan oleh Rusdiansyah, warga Palangkaraya lainnya. Meski kecewa, dia tak mau sepenuhnya menyalahkan pemprov.  “Mungkin pemprov punya niat baik. Pemprov ingin melindungi hasil temuan rahasia terbesar alam yang dimiliki Kalteng, sekaligus menjaga karya ilmiah yang ditemukan para siswa SMAN2 Palangkaraya,” ungkapnya.

Rusdiansyah sepenuhnya setuju jika ada regulasi, baik itu perwali, perbup, atau ketentuan lainnya kepada warga Kota Palangkaraya dan sekitarnya. Ini agar masyarakat mengetahui alasan pelarangan tersebut. Dengan demikian, pemprov tidak terkesan terburu-buru dalam membuat sebuah kebijakan.

Seorang petugas dari jasa pengiriman menyebutkan, larangan untuk mengirim akar pohon bajakah itu disampaikan oleh aparat dari pemprov pada pada Jumat (16/8) lalu. Saat itu para parat langsung mendatangi Bandara Tjilik Riwut di Palangkaraya dan badan karantina untuk memberitahukan soal pelarangan tersebut.

Pemberitahuan itu kemudian diteruskan ke semua agen jasa pengiriman. Dengan larangan tersebut, maka akar pohon bajakah kini tak bisa lagi keluar Kalteng. (Ant/AS)

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close