OPINI

Belajar ke Hajar dan Beruswah ke Hannah

Oleh: M. Anwar Djaelani

Siapa ibunda Ismail? Siapa ibunda Maryam? Jawaban atas dua pertanyaan itu menarik, terutama bagi para orangtua yang mengingini anaknya bahagia dunia-akhirat.

Jakarta — Posisi Hajar dan Hannah memang patut kita cermati karena masing-masing merupakan bagian dari Keluarga Ibrahim dan Keluarga ‘Imraan yang Allah sebutkan di Al-Qur’an: “Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga ‘Imraan melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing), (sebagai) satu keturunan yang sebagiannya (turunan) dari yang lain. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS Ali ‘Imraan [3]: 33-34).

Siapa Hajar? Dia istri Nabi Ibrahim As dan sekaligus ibunda Ismail. Dia cemerlang menunjukkan karakternya sebagai perempuan shalihah. Dia peragakan dengan baik ketaatan hamba kepada Allah, kesetiaan istri kepada suami yang shalih, dan keikhlasan ibu yang meletakkan dasar-dasar tauhid bagi putranya.

Atas titah Allah, Ibrahim As beserta keluarganya hijrah ke Mekkah. Tapi, Ibrahim As lalu segera pergi meninggalkan Hajar dan Ismail di tempat yang -ketika itu- belum berpenghuni dan gersang. Ditinggal sendirian bersama Ismail (yang masih menyusu) di ”tempat tak bersahabat” dan dengan perbekalan yang terbatas, Hajar ridha. Tapi, sebagai manusia sempat muncul kekhawatiran, yang lalu diungkapkan Hajar kepada Ibrahim As.

“Ke mana engkau akan pergi? Untuk siapakah engkau meninggalkan kami di lembah yang gersang dan mengerikan ini,” tanya Hajar.

Pertanyaan itu tak kunjung dijawab oleh Ibrahim As dan bahkan dia terus berjalan menjauh. Melihat hal itu, Hajar terus mengulang-ulangnya.

“Allah-kah yang memerintahmu,” tanya Hajar.

“Benar,” jawab Ibrahim As, pada akhirnya.

“Jika demikian, maka Allah tak akan menyia-nyiakan kami,” kata Hajar.

Lihatlah kemudian, Hajar sendirian mendidik Ismail! Perhatikanlah, ketika perbekalan air habis dan Ismail membutuhkannya, Hajar berikhtiar mencarinya. Hajar berlari kecil menuju bukit Sofa. Dari ketinggian bukit itu, dia berharap bisa melihat (sumber) air. Tapi, tak ditemukannya. Lalu, Hajar -dengan masih berlari-lari kecil- menuju bukit Marwah. Dari bukit inipun tak dilihatnya (sumber) air. Berkali-kali Hajar mengulang melihat dari ketinggian bukit Sofa lalu berganti dari bukit Marwah.

Alhamdulillah, kemudian Allah ”menghidangkan” (sumber) air Zamzam tak jauh dari Ismail. Inilah isyarat berbalasnya sikap tunduk-patuh seorang hamba kepada Allah.

Siapa Ismail? Dia masih sangat belia ketika dengan tanpa ragu-ragu ikhlas menjalankan perintah Allah untuk dikorbankan. Perhatikanlah ayat ini: ”Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ’Hai Anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!’ Ia menjawab: ’Hai Bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya-Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar’.” (QS Ash-Shaaffaat [37]: 102). Lihatlah, Ismail sabar menerima “perkara sulit” itu.

Ismail, jelas anak istimewa. Hajar, terang ibu istimewa. Keduanya benar-benar orang yang beriman dengan selalu berserah diri kepada Allah dan mengembalikan semua urusan kepada-Nya.

Sekarang, siapa Hannah? Dia istri ‘Imraan, salah seorang pemuka agama di Baitul Maqdis. Hannah perempuan beriman. Meski tertutup peluang untuk punya anak karena sejumlah faktor, Hannah terus berusaha. Terakhir, dia-pun bernadzar.

Mari resapi nadzar Hannah lewat doa yang sangat menggetarkan, di ayat ini: “(Ingatlah), ketika istri ‘Imraan berkata: ‘Yaa Tuhanku, sesungguhnya aku menadzarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang shalih dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nadzar) itu dariku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui’.” (QS Ali ‘Imraan [3]: 35).

Lihatlah, bentuk nadzarnya jelas, dalam bingkai Syariat Allah. Inilah sebuah visi yang cemerlang dari seorang (calon) ibu dalam menyiapkan kelahiran sang anak. Dia ingin sang anak menjadi Pejuang Agama lewat perannya sebagai petugas atau pengurus Baitul Maqdis. Di titik inilah pendidikan kepada anak diawali.

Singkat kisah, Hannah lalu hamil. Kemudian, saat melahirkan dia tak didampingi sang suami karena telah meninggal sebelumnya. Lahirlah Maryam –nama anak perempuan Hannah itu- dan lalu tumbuh-kembang menjadi perempuan shalihah.

Siapa Maryam? Meski tak bisa menjadi petugas atau pengurus masjid karena perempuan, dia tetap istiqomah dalam mencintai Rumah Allah. Dia khusyuk beribadah di mihrab Baitul Maqdis. Tentang ini dibenarkan oleh Zakaria As yang memang sering mendapati Maryam dalam aktivitas beribadah di dalam mihrabnya.

Maryam bisa menjaga kehormatannya. Dia pandai menjaga pergaulan, tidak sembarangan berdekatan dengan pria yang bukan mahramnya. Maryam -yang di kemudian hari menjadi ibu dari Nabi Isa As- sangat menjaga kesucian dirinya.

Siapa Maryam? Maryam adalah satu dari empat pemuka kaum perempuan di Surga. Tentang ini, Rasulullah Saw bersabda, “Pemuka perempuan Ahli Surga ada empat: Maryam binti ‘Imraan, Fatimah binti Rasulullah Saw, Khadijah binti Khuwailid, dan Asiyah” (HR Hakim). Bahkan, Allah abadikan Maryam menjadi nama salah sebuah Surat di dalam Al-Qur’an.

Maryam, terang anak istimewa. Hannah, jelas ibu istimewa. Keduanya benar-benar orang yang beriman dengan selalu berserah diri kepada Allah dan mengembalikan semua urusan kepada-Nya.

Gelora Visi
Alhasil, memang harus ada visi besar dari orangtua atas lurusnya tauhid anak. Maka, sebagaimana Hajar dan Hannah, usaha dan doa harus terus dilakukan. Peragakanlah usaha kita yang sungguh-sungguh seperti saat Hajar mencarikan minum Ismail. Tunjukkanlah doa kita yang serius seperti saat Hannah berharap karunia seorang anak yang akan langsung “diantar” menjadi Pejuang Agama. Terakhir, visi besar itu harus konsisten kita jalankan meski karena satu dan lain hal harus sendirian dalam mendidik anak. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close