Berita Lokal PekanbaruNews

Bambang Utoyo Ramaikan Bursa Calon Ketum Partai Golkar

Oleh: Muhajir

Metropekanbaru.com, JAKARTA– Selain nama Bambang Soesatyo dan Airlangga Hartarto, Indra Bambang Utoyo juga turut meramaikan bursa calon ketua umum Partai Golkar. Indra adalah tokoh Golkar yang saat ini menjabat sebagai salah satu ketua DPP Golkar dan pernah menjabat ketua umum AMPI dan  ketua FKPPI.

Alasan Indra maju sebagai caketum karena suara Golkar menurun di bawah kepemimpinan Airlangga Hartato. Kursi Golkar pada Pileg hanya 85 kursi, ini menurun jika dibandingkan Pileg 2014 yang mencapai 91 kursi.

“Menurunnya perolehan suara dan kursi DPR RI pada Pemilu 2019 disebabkan oleh faktor kepemimpinan yang bermasalah, tidak adanya isu strategis, tidak terlaksananya konsolidasi dengan baik, serta kasus korupsi yang menjerat kader partai,” kata Indra dalam keterangan tertulis, Sabtu (20/7).

Indra kemudian menceritakan cikal bakal berdirinya Golkar yang lahir atas dorongan Jenderal Ahmad Yani dengan nama Sekber Golkar 1964. Saat itu, Sekber Golkar membawa misi mempertahankan ideologi bangsa, Pancasila dari rongrongan PKI atau komunisme.

Sementara, tantangan saat ini adalah gangguan ideologi baru dari konsep khilafah, meski sel-sel komunisme masih hidup. Dewasa ini, Golkar tidak mampu menjadi benteng Pancasila dalam melawan khilafah, terutama saat kontestasi Pilkada DKI Jakarta 2017 dan semakin memanas pada Pilpres 2019.

“Dalam kaitan ini saya melihat Golkar tidak menunjukkan kekhawatiran terhadap perkembangan khilafah ini, di mana seharusnya Golkar lah yang paling depan mewaspadai, bahkan melawannya,” ucap Indra.

Konflik di internal Golkar juga semakin meruncing karena persaingan kekuasaan. Suasana internal saat ini menjadi pragmatis meninggalkan idealisme. Isinya seperti jual-beli suara.

Tak hanya itu, Indra juga menyesalkan tokoh-tokoh legislator Golkar terlibat pada kasus di KPK. Bahkan terakhir ketua umum (Setya Novanto) dan sekjen (Idrus Marham) yang dibanggakan masuk ke tahanan bersama beberapa tokoh lain, dari pusat hingga daerah.

“Sempat pula Golkar terbelah selama hampir dua tahun karena persoalan pragmatisme dan kekuasaan,” kata dia. (EP)

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close