Berita Lokal PekanbaruLifestyle

Awas, Ada 200 Jenis Bajakah, Sebagian Beracun

Oleh: Eko P

Metropekanbaru.com, PALANGKARAYA – Pemanfaatan Bajakah secara medis dinilai masih dalam tahap kajian, sehingga masih memerlukan waktu yang tak sedikit. Namun selama ini, Bajakah memang biasa digunakan warga lokal untuk terapi pengobatan.

Karenanya, masyarakat dari berbagai daerah, diimbau datang langsung ke Provinsi Kalimantan Tengah, jika ingin memanfaatkan Bajakah untuk terapi pengobatan penyakit yang diderita.

“Siapa pun yang hendak merasakan manfaatnya, sebaiknya datang langsung ke Kalteng. Agar terhindar dari berbagai potensi kesalahan, seperti pemilihan Bajakah yang tidak tepat dan lainnya,” kata Komandan Korem 102 Panju Panjung Kolonel Arm Saiful Rizal di Palangka Raya, Selasa (20/8).

Saiful menjelaskan, dirinya sudah pernah ikut secara langsung ke lapangan, bersama warga lokal yang sejak dulu biasa mencari dan memanfaatkan Bajakah. Menurutnya, pencarian Bajakah yang disebut berkhasiat obat tidaklah mudah dan pemanfaatannya pun dilakukan dengan penuh kearifan lokal.

“Orang yang sudah terbiasa pun, harus berhati-hati dalam memilih Bajakah yang bisa digunakan untuk terapi. Sebab bentuk fisiknya tampak mirip antara satu dan lainnya,” jelasnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan, Bajakah artinya menjalar, yaitu akar-akar yang menjalar. Berdasarkan riset, informasinya ada sekitar 200 jenis Bajakah dan tidak semuanya berkhasiat untuk obat, bahkan diduga sebagian diantaranya beracun. Untuk itu, sudah seharusnya masyarakat berhati-hati dan tidak sembarangan.

Senada seperti yang disampaikan Danrem, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kalteng Agus Pramono menjelaskan, sudah seharusnya masyarakat lebih berhati-hati dalam pemanfaatan Bajakah.

Pasalnya banyak Bajakah yang dijual saat ini, khususnya di tepian jalan sudut kota dan lainnya, dikhawatirkan bukanlah jenis Bajakah yang benar-benar berkhasiat sebagai obat yang dimaksud. Sehingga pihaknya menilai, langkah yang diambil Pemprov sangatlah tepat, untuk segera mengatur regulasi pemanfaatannya.

“Jangan sampai Bajakah yang ramai dijual saat ini, ternyata adalah Bajakah yang diduga mengandung racun sehingga saat dimanfaatkan memberikan efek buruk. Hingga pada akhirnya, kondisi itu berimbas pada Kalteng dan malah mendapatkan penilaian negatif. Ini yang harusnya kita cegah bersama,” tegasnya.(EP)

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close